Marsdya (Purn) TNI AU Rio Mendung Thalieb Penerbang Pesawat Tempur Asal Abung Kunang

| ๐•ฟ๐–Š๐–—๐–Ž๐–’๐–†๐–๐–†๐–˜๐–Ž๐– ๐•ต๐–†๐–‰๐–Ž ๐•ป๐–Š๐–’๐–‡๐–†๐–ˆ๐–† ๐•พ๐–Š๐–™๐–Ž๐–†.

Klik Gambar

Lampung-Halopaginews.com- Kegiatan latihan Matra Udara 1 Level 1 Hardha Marutha tahun anggaran 2026 digelar oleh TNI AU berpusat di kawasan Gunung Puter Kabupaten Tulang Bawang Propinsi Lampung KM. 26 pada Selasa, 4 Februari 2026 lalu.

Menyaksikan kegiatan latihan di video tiktok (VT) @risvan.way.ka berdurasi 34 detik, penulis mengingat Marsekal Madya (Purn) TNI AU Rio Mendung Thalieb Putra Asli Daerah Lampung Abung Pepadun berasal dari Buai Kunang tepatnya di Desa Aji Kagungan Kecamatan Abung Kunang Kabupaten Lampung Utara.

Ia merupakan salah seorang penerbang pesawat tempur jenis/type OV-10 Bronco yang pernah ditugaskan untuk menumpas gerakan pretelin di Timor Timur pada era tahun 1977-1982 silam.

Menukil sebuah artikel paratokohlampung.blogspot.com yang menceritakan tentang cita-cita Rio Mendung Thalieb dahulu ingin menjadi seorang perwira Angkatan Laut (AL).

Itulah sebabnya begitu ia tamat dari SMA Teluk Betung Propinsi Lampung langsung mendaftarkan diri ke Akademi Angkatan Laut di Malang Propinsi Jawa Timur.

Tapi, ia juga mengirimkan berkas lamarannya ke Akademi Angkatan Udara, kebetulan di saat itu melamar pada dua kesatuan memang tidak menjadi persoalan.

“Kebetulan waktu itu pendaftarannya hampir bersamaan,” kata Rio Mendung.

Panggilan dari Angkatan Laut (AL) ternyata datang lebih dahulu. Putra keempat (bungsu) dari empat bersaudara pasangan Abdul Muthalib dan Mastura ini pun berangkat ke Malang untuk mengikuti segala kegiatan calon perwira TNI AL.

Pertama kalinya merantau, ia tidak didampingi oleh kedua orang tuanya maupun tiga orang kakak perempuannya. Melainkan menumpang dirumah kerabat keluarganya yang kebetulan telah terlebih dahulu bermukim di Pulau Jawa.

“Ikatan persaudaraan masyarakat Lampung kan sangat kental,” ujarnya.

Perjalanan karier militer pria asal dari Desa Aji Kagungan Kecamatan Abung Kunang Kabupaten Lampung Utara (dahulu Kecamatan Abung Barat- Red) ini berubah tatkala lamarannya di Angkatan Udara diterima. Waktunya tidak begitu lama setelah ia masuk Angkatan Laut.

Setelah dipikirkan matang-matang, Rio Mendung akhirnya memutuskan untuk memilih berkarier di angkatan udara.

Menurut penulis, pilihannya tepat sebab takdir berkehendak lain dan nama yang dibuat oleh Abdul Muthalieb orangtuanya yaitu Rio Mendung memiliki makna tersendiri.

Pada umumnya kita mengetahui bahwa yang Mendung pasti langit bukan laut dan nama Rio berasal dari Minak Rio Kunang leluhur keturunan pertama Buai Kunang- red.

“Barangkali memang panggilan jiwa saya di Angkatan Udara,” kata Wakil Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas) ini.

Dari Malang dia kemudian pindah ke Yogyakarta, markas AAU. Yogyakarta ternyata sangat bersahabat dengan Rio. Kota tempat ia menuntut ilmu kedirgantaraan dan meniti karier sebagai perwira AU.

Banyak hal-hal lain yang menyenangkan bagi Rio selama di Yogya. Hal paling indah baginya adalah saat jatuh cinta dan akhirnya mempersunting Eliza Diana Rosa.

“Istri saya orang Yogya, dapatnya memang di sana,” kata dia.

Rio lulus dan menjadi perwira TNI AU pada usia 22 tahun tepatnya pada tahun 1975. Setelah 2 tahun menjalani tugas sebagai perwira muda, dia mengikuti sekolah penerbang di Landasan Udara Adi Sucipto, Yogyakarta.

Di sini bakat Rio sebagai penerbang pesawat tempur mulai terlihat. Di Adi Sucipto namanya identik dengan penerbang pesawat tempur OV-10 Bronco. Dia pernah menjadi komandan skuadron pesawat tempur ini.

Dari 1977–1982 Rio Mendung diterjunkan ke Timor Timur. Selesai bertugas, dia ditarik lagi ke Yogya dan menjadi instruktur penerbangan, tempat ia mulai menapaki karier di dunia kedirgantaraan.

Baca Juga :  LITERASI DIGITAL KABUPATEN PESAWARAN โ€“ PROVINSI LAMPUNG

Di Angkatan Udara, Rio termasuk penerbang jempolan. Jarang penerbang bertitel M.Sc.(master of science) dan Ph.D. (philosophiae doctor) seperti dia. Rio memang tergolong perwira yang getol sekolah.

Ketika menjadi instruktur penerbangan, ada tawaran kuliah Pasca Sarjana di US Naval Postgraduate School, California, Amerika Serikat. Peluang emas itu tentu saja tak disia-siakannya.

“Bagi saya, sekolah adalah sesuatu yang sangat menyenangkan,” kata Jenderal Bintang Tiga ini.

Di US Naval Post Graduate, ia lebih dahulu mengikuti pendidikan pendahuluan selama enam bulan. Itu untuk standardisasi kemampuan, sampai dianggap cukup dan dinilai sudah bisa mengikuti materi kuliah.

Studi yang dipilihnya adalah operation research, bidang keilmuan yang tergolong langka (saat itu). Dia sengaja memiliki bidang itu dengan harapan bisa dikembangkan di almamaternya (Akademi Angkatan Udara).

“Saya akan menyesuaikan pendidikan dan pembinaan di sekolah penerbang TNI AU dengan kemajuan teknologi informasi yang berkembang pesat itu,” kata Rio.

Pada tahun 1988, setelah menjalani kuliah selama dua setengah tahun, Rio akhirnya lulus dan menyandang gelar master of science (M.Sc.).

Setelah lulus S-2 dari AS, sebenarnya dia kepengin melanjutkan studi, tapi tidak mendapatkan izin dari lembaganya. Dia ditugaskan sebagai komandan di skuadron tempur.

Beberapa waktu kemudian dia mengajukan lamaran sekolah di Australia. Pada sebuah pertemuan, Rio bertemu seorang profesor pada salah satu perguruan tinggi Negeri Kanguru.

Atas saran profesor itu ia mengirim transkrip akademisnya. Dua pekan kemudian, University of New South Wales, Australia, menyatakan menerimanya. Januari 1995, Rio mulai kuliah dan lulus Januari 1999 dengan gelar Ph.D.

Lulus kuliah Rio langsung ditugaskan di Mabes TNI Angkatan Udara. Akhir 1999, dia masuk Lemhanas. Selanjutnya menjadi komandan Landasan Udara Adi Sucipto, Yogyakarta, dan pangkatnya naik menjadi marsekal pertama.

“Waktu itu umur saya 47 tahun. Ya, masih cukup muda-lah,” ujar penerbang yang menguasai ilmu statistik ini.

Bangga pada Lampung

Lama tinggal di Yogyakarta, Rio mengakui pola hidupnya sudah kejawa-jawaan. Begitu pula dengan ketiga anaknya (dua kuliah di Australia dan si bungsu masih duduk di kelas IV SD).

Kendati sebagian besar hidupnya dilalui di luar Lampung, Rio belum lepas dari akar budaya leluhurnya. Ia juga tidak pernah lupa pada kampung halamannya. Sesibuk apa pun, dia selalu berupaya menyempatkan diri untuk bertemu sanak-saudaranya di Bumi Ruwa Jurai.

Di mata Rio, Lampung kini banyak mengalami kemajuan. Pemekaran daerah, kondisi sarana-prasarana, infrastruktur, serta perkembangan provinsi ini selalu ia ikuti.

“Potensi Lampung sangat besar. Ada pelabuhan laut, pangkalan udara, dan sebagai pintu gerbang Sumatera,” kata ayah tiga anak (semuanya perempuan) ini.

Heterogenitas penduduk di Lampung dinilai Rio juga merupakan kelebihan. Sebab, masyarakat yang majemuk adalah model masyarakat masa depan. Orang yang menghargai kemajemukan akan menghargai kebhinekaan. Dan, itu adalah ciri khas masyarakat global.

Dari dahulu, kata dia, kondisi masyarakat di Lampung sudah seperti itu. Banyak warga pendatang dan orang Lampung bisa menerima. Komunitas adat Pepadun dan Saibatin juga bukan penghalang untuk memajukan Lampung.

“Tradisi tetap dipertahankan untuk membangun daerah,” harap pria yang hobi bermain golf ini.

Untuk memajukan Lampung, menurut Rio, tidak ada jalan lain kecuali mengoptimalkan potensi yang dimiliki daerah ini. Beberapa sektor bahkan sudah dikenal secara luas, seperti pertanian dan perkebunan (tebu, tapioka, dan lainnya). Sumber daya mineral juga belum tereksploitasi secara maksimal.

Baca Juga :  Panen Raya Padi Bersama Bupati Dan Wakil Bupati Lamtim: Bersama Kita Bisa Wujudkan Swasembada Pangan

Sebagai putra Lampung, dia selalu berharap generasi muda Lampung berhasil dalam pendidikan dan karier. Kalau ada tokoh yang berasal dari Lampung atau sekolahnya di Lampung,

“Kita ikut bangga. Selalu ada ikatan batin,” ujar Rio, yang rajin berpuasa.

Untuk generasi muda Lampung, Rio berpesan agar lebih mengutamakan pendidikan. Sebab, tanpa ditopang pendidikan berkualitas, sumber daya bangsa Indonesia pasti tertinggal.

Dia mengakui bangku sekolah dan universitas identik dengan biaya yang mahal.

“Sehingga orang-orang yang kaya itu harusnya bisa menyisihkan sebagian hartanya untuk (membantu) orang lain,” harapnya.

Namun, kini memperoleh ilmu pengetahuan tidak lagi hanya di sekolah atau universitas. Kemajuan teknologi informasi yang pesat sangat membantu sistem belajar: bisa kapan dan dimana saja, cukup browsing di internet. Atau, bisa mengikuti pendidikan nonformal.

Karakter dan prinsip Rio Mendung banyak dipengaruhi kedua orang tuanya. Orang tuanya bisa dikatakan kuat dalam memegang prinsip. Ajaran yang selalu diingatnya yaitu bahwa manusia diciptakan Tuhan sehingga semuanya bergantung pada-Nya.

“Tanpa-Nya kita tidak punya arti apa pun. Jadi kita harus percaya ikatan kita dengan yang maha kuasa dengan melaksanakan ibadah. Dan orang tua saya mendidik untuk rajin puasa, rajin salat, dan yang sepert itu membangkitkan semangat,” kata Rio di akhir pembicaraan, awal Juli 2008.
BIODATA
Nama Ayah : Abdul Muthalieb
Nama Ibu : Mastura
Nama anak kesatu : Herlina Thalieb
Nama anak kedua : Herawati Thalieb
Nama anak ketiga : Mulyati Thalieb
Nama anak keempat : Rio Mendung Thalieb
Nama: Marsekal Madya TNI Dr. Rio Mendung Thalieb, M.Sc.,Ph.D
Lahir: 1954
Agama: Islam
Istri: Hj. Eliza Diana Rosa
Anak:
– Saras
– Dinar
– Claire
Pendidikan Militer:
– Akademi Angkatan Udara tahun 1975
– Pendidikan sekolah Penerbang (1977)
– Sekolah instruktur Penerbang (1982)
– Master Of Science OR NPS USA (1988)
– Sekolah Staf dan Komando AU (1991)
– Doktor filsafat UNSW Australia (1999)
– KRA Lemhanas (2000)

Jabatan dan Karier:
Komando Skuadron Taruna (Karbol) Tingkat II (1988), Komandan Skuadron Udara 1 Lapangan Udara (Lanud) Abdurrahman Saleh, Malang (1992),

Perwira Pembantu Utama (Paban) I, Rencana Strategi (Renstrat) Staf Perencanaan dan Anggaran Angkatan Udara (Srenaau) Markas Besar Angkatan Udara (Mabesau) (1999).
Komandan Lapangan Udara (Lanud) Adi Sutjipto Yogyakarta (2000).
Wakil Asisten Perencanaan Umum Panglima TNI.

Wakil Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia (Lemhannas RI) (2008) dan menjalani masa pensiun sejak tahun 2012 lalu.

Menurut Hi. Syobirin Kunang (74) Ketua Majelis Penyimbang Adat Lampung (MPAL) Propinsi Lampung, kini Rio Mendung Thalieb sekeluarga berdomisili di Australia.

“Rio itu 3 bulan lebih tua dari Saya usianya sekitar 72 tahun, kakak perempuannya yang tertua dan kedua dosen di Unila, suami kakak perempuannya yang ketiga terakhir Pejabat di Irian. Sekarang Rio sekeluarga di Australia, saya ketemu Rio 2 tahun lalu saat takziah sewaktu kakak perempuannya meninggal dunia,” tutur Syobirin Kunang pada Sabtu, 7 Februari 2026 jam 10.37 WIB.

“Itulah nama-nama orang Buai Kunang yang muncul kepermukaan, selain Rio Mendung ada juga Doktor Alfian Yusuf Helmi Duta Besar RI di Australi. Oesman Jusuf Helmi jabatannya setingkat Kapolri Muhammad Hasan, kalau mau cari orang kita Buai Kunang yang ada nama tapi hilang sekarang,” kata Ketua MPAL Propinsi Lampung tersebut. (Ropian Kunang)

Dilaporkan oleh : Redaksi Umum