Klik Gambar

Lampung Timur-Halopaginews.com- Aktivitas tambang tanah urug dan timbunan di Desa Sidodadi Kecamatan Sekampung dikeluhkan masyarakat setempat.
Khususnya Masyarakat disepanjang jalan Desa mengeluhkan polusi udara akibat terdampak debu saat puluhan kendaraan Dum truk pengangkut tanah urug dan timbunan melintas.
“Kita siram karena debunya luar biasa, ceritanya, penggalian sudah berjalan beberapa tahun. Warung-warung kecil banyak debu si Rusman nggak pernah ngarespon, ini malah bergejolak,” ungkap seorang masyarakat setempat pemilik toko yang enggan disebut identitasnya pada Selasa, 30 September 2025 sekitar jam 12.00 WIB.
Rusman pemilik alat berat ekskavator sekaligus pengusaha tambang tanah urug dan timbunan telah bertahun-tahun namun diduga tak ada kompensasi untuk masyarakat terdampak.
“Rusman buka usaha disini udah berapa tahun, masyarakat sini kontribusinya nggak ada akhirnya masyarakat nggak pernah dikasih apa-apa,” katanya.
“Tolong jalan itu kalau berdebu gimana, kesehatan orang dagang dagang ini kasian, contoh pedagang pecel, kayak saya debunya luar biasa,” terangnya.
“Kemarin mau tak viralkan itu, (lokasi tambang) pindah sana pindah sini, orang-orang situ sudah bergejolak nemuin saya,” paparnya.
Sepengetahuannya, setiap pengusaha tambang tanah urug dan timbunan melakukan penyiraman debu.
“Yang penting istilahnya setahu saya dimana-mana itu nggak ketang sekali diceprati air gitu debu ngerusak jalan biar supaya nggak debu,” imbuhnya.
“Aku setiap hari nyiram, boro boro ngasih duit untuk pulsa namanya sibel boros pulsa luar biasa mending ada ujan tahun kemaren,” cetusnya.
Jalan Desa Sidodadi semula halus beraspal saat ini hancur lebur diduga disebabkan menjadi lintasan kendaraan Dum truk pengangkut tanah.
“Jalan ini dulunya halus inikan hancur lebur masyarakat yang susah, nanti masyarakat bergejolak nggak bisa kerja,” keluhnya.
Hendaknya ruas badan jalan yang telah berlubang diperbaiki dan disiram bila tak turun hujan sebab prihatin dengan para pedagang.
“minimal jalan yang legok legok (lubang) itu diurug ditimbun, kalau memang tiga hari atau empat hari nggak ujan cipratin air, kasian orang dagang,” ucapnya.

“Kalau di lintas mau ngebut ya monggo disini tau sendiri udah berapa tahun. Aku kalau nggak ngerem masyarakat disini sudah dicegat,” sambungnya.
“Duduk disini, kalau nggak gerimis Aku memang nyiramin debunya, itu namanya orang dagang sembako, yang dagang makanan adekku bakul pecel kasian,” tuturnya.
“Kontribusi sama masyarakat sini lebaran nggak ada, tapi kontribusi mungkin kalau ada acara ya wajar kayak 17 an pemuda minta wajar,” katanya.
“Cuma sama masyarakat terdampak ini sama sekali nggak ada, memang mau tak viralkan sudah tak poto,” terangnya.
“Wes suwi opo wes tahun tahunan, udah tiga tahun apa empat tahun, pindah pindah pindah terus, jadi jalan ini diurus nggak pernah,” jelasnya.
Ketika tambang tanah berlokasi di Desa Batang Harjo dan Desa Banar Joyo Kecamatan Batanghari Rusman menyiram jalan berdebu sedangkan di Desa Sidodadi tidak pernah.
“Padahal di 41 dan 46 pasti nyiram dia, ini sama sekali belum pernah nyiram, dulu pindah dari 41 Batang Harjo dan juga dari 46 Banar Joyo Batanghari,” ungkapnya.
“Sopir-sopir pada kumpul disini beli rokok, ngobrol dimana-mana disiram disini nyepelekan mentang-mentang masyarakatnya diem dalam hati jengkel,” uraian.
“Ini mendingan ada ujan kemaren nggak,
Saya bikin sumur bor baru karena untuk nyiram, tiap pagi saya siramin supaya nggak berdebu,” cetusnya.
“Kalau dipikir hasilnya udah berapa ratus juta, mobil satu bisa 20 rit, mobil satu ibaratnya 10 rit, kalau kemaren-kemaren nggak mendung, mobil masuk sekitar 20 an,” Pungkasnya.
Ketika dikonfirmasi melalui handphone, Rusman pemilik alat berat ekskavator sekaligus pengusaha tambang tanah enggan memberi keterangan.
“Kerumah aja, nanti saya sherlok,” kata Rusman singkat pada jam 12.44 WIB. (RK/AS)