Bhabinkamtibmas Polsek Way Bungur Donasikan Gaji Sebulan Untuk Bantu Mbah Pairan Dan Solekan

| π•Ώπ–Šπ–—π–Žπ–’π–†π–π–†π–˜π–Žπ– π•΅π–†π–‰π–Ž π•»π–Šπ–’π–‡π–†π–ˆπ–† π•Ύπ–Šπ–™π–Žπ–†.

Klik Gambar

Lampung Timur-Halopaginews.com- Ditengah tugas barunya sebagai Bhabinkamtibmas Polsek Way Bungur, AIPTU Bambang yang baru satu bulan menjabat di Desa Tegal Ombo, Kecamatan Way Bungur, Kabupaten Lampung Timur, dihadapkan pada kenyataan yang menggugah hati nurani.

Semua bermula saat dirinya menghadiri undangan rapat BLT DD Khusus (Bantuan Langsung Tunai Dana Desa Khusus) di Balai Desa Tegal Ombo. Rapat tersebut membahas rencana program bedah rumah bagi warga kurang mampu. Dalam forum itu, muncul usulan dua nama lansia, yakni Mbah Paeran dan Mbah Solekan. Namun suasana rapat mendadak memanas ketika muncul perbedaan pendapat.

Sebagian peserta menyatakan keduanya tidak memenuhi syarat administrasi karena tidak memiliki tanah atas nama pribadi. Padahal, pada tahun 2025 mereka juga pernah diusulkan, namun kembali gagal karena terbentur aturan yang sama. Lebih jauh lagi, nominal BLT DD Khusus sebesar Rp10 juta dinilai jauh dari cukup untuk membangun rumah layak huni. Pertanyaan pun mencuat, jika dana kurang, siapa yang akan menanggung sisanya? Meski penuh perdebatan, rapat akhirnya memutuskan bahwa usulan tetap akan diajukan.

Baca Juga :  Dukung Suksesnya Pilkada Serentak 2024, Kodim 0429/Lamtim Hadiri Pelantikan PKD

Namun kisah tidak berhenti di sana. Usai rapat, Kepala Dusun 4, Marsin, bersama anggota BPD, Bapak Sunarya, mendekati AIPTU Bambang. Dengan nada lirih mereka menyampaikan bahwa kedua lansia itu sesungguhnya sangat layak dibantu. Mereka miskin ekstrem, tak memiliki harta benda, apalagi tanah.

Foto, Istimewa
Fo, Istimewa

Rasa penasaran bercampur iba mendorong AIPTU Bambang turun langsung ke lokasi. Di RT 16 Dusun 4, ia mendapati Mbah Paeran (62) hidup sebatang kara, menumpang di tanah milik keponakannya. Rumahnya jauh dari kata layak. Untuk bertahan hidup, ia memelihara empat ekor kambing. Sementara di RT 17, Mbah Solekan (78) menjalani hari-harinya seorang diri, menumpang di tanah milik saudaranya. Kedua lansia itu telah puluhan tahun hidup dalam kondisi memprihatinkan, menggantungkan harapan pada bantuan tunai dan beras dari pemerintah.

Hati seorang Bhabinkamtibmas itu pun tergerak. Ia tidak ingin aturan menjadi tembok penghalang kemanusiaan. AIPTU Bambang segera mengumpulkan Kepala Dusun, Ketua RT, dan anggota BPD untuk bermusyawarah. Dari pertemuan itu lahirlah kesepakatan membentuk panitia bedah rumah secara swadaya. Ia dipercaya sebagai ketua panitia, dan pembangunan akan dilakukan secara gotong royong oleh warga.

Baca Juga :  Satu Warga Gondangrejo Positif Covid-19

Tak berhenti di situ, AIPTU Bambang mendatangi rumah Mbah Paeran membawa sembako, pakaian, dan perlengkapan salat. Ia bahkan mendatangkan tukang cukur karena rambut Mbah Paeran telah gondrong dan selama ini dipotong sendiri. Sentuhan kecil penuh makna itu menghadirkan kembali rasa percaya diri dan kebahagiaan sederhana.

Sebagai wujud kesungguhan, AIPTU Bambang dengan tulus menyumbangkan satu bulan gajinya demi membantu pembangunan rumah tersebut. Sebuah pengorbanan yang lahir dari hati.

Aksi ini menjadi bukti bahwa kehadiran Bhabinkamtibmas bukan sekadar penjaga keamanan. Ia hadir sebagai penggerak kepedulian, penyambung harapan, dan bukti bahwa kemanusiaan selalu menemukan jalannya. (*)

Dilaporkan oleh : Redaksi Umum