Jakarta,halopaginews.com

Relawan Perjuangan Demokrasi (Repdem) akan melaporkan Haikal Hassan ke Bareskrim Mabes Polri, Jakarta, Jumat, 11 Februari 2022.
Pelaporan ini terkait potongan video ceramah Haikal yang viral di media sosial. Video itu disebut telah menuduh Presiden ke-1 Indonesia, Soekarno sebagai tukang penjarakan ulama.

Ketua Bidang Politik DPP Repdem, Simson Simanjuntak mengonfirmasi upaya pelaporan ke Bareskrim. Kata dia pelaporan dilakukan pada pukul 14.30 WIB hari ini oleh para pengurus Repdem.
Jam 14.30 WIB ya, Pengurus DPN, yang dibawa bukti rekaman,” kata dia saat dihubungi.
Haikal sendiri telah mengklarifikasi video yang akan dilaporkan Repdem tersebut. Melalui akun YouTube Haikal Hassan Official dia mengatakan bahwa video viral itu merupakan video yang telah dipotong-potong.

Baca Juga :  NCW Nasional Coruption Wacth, Temu wicara Dan Buka Bersama 2022 Dewan Pimpinan Nasional Coruption watch.

“Padahal memotong-motong video itu adalah juga sebuah pelanggaran ITE ya,” kata Haikal dalam video yang diunggah dua hari lalu itu.

Dia menekankan, pada dasarnya juga memiliki ratusan video yang memuji-muji Soekarno selama ini dan bahkan juga ada yang berisi pernyataannya bahwa Soekarno seperti walinya Allah.

“Seperti waliuallah, seperti ya, yang luar biasa membawa Indonesia dengan perjuangan yang konsisten sampai merdeka,” tegas dia.

Dia menilai, video viral tersebut seperti tengah mencari-cari kesalahannya saja. Padahal menurut Haikal, pernyataannya tentang Soekarno memenjarakan ulama dalam konteks sejarah yang tengah diceritakan.

Baca Juga :  Satreskrim Polres Metro Jakpus Gandeng Puslabfor Mabes Polri ,Usut Pembakaran Pospol Pejompongan.

“Artinya memang di tahun-tahun itu Bung Karno saya bilang kena fitnah oleh PKI sehingga memenjarakan Buya Hamka dan Muhammad Natsir dan lain-lain,” tuturnya.

Haikal sendiri mengaku telah mendengar kembali potongan video yang dimaksud dan tengah mencari video asli yang utuh. Tapi, dia juga sudah lupa lokasi saat ceramah menyampaikan pernyataan Soekarno tukang memenjarakan ulama.

“Jadi itu dalam konteks sejarah, tidaklah selalu dibawa ke ranah hukum, lapor, dan seterusnya. Sampai kapan kita mau begini,” ujar Haikal.

(Luckysun)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here