Klik Gambar

Lampung Timur-Halopaginews.com- Antrean panjang kendaraan hingga mencapai 500 meter di kanan-kiri pintu masuk SPBU Srimenanti, Kecamatan Bandar Sribhawono, Lampung Timur, menjadi polemik. Antrean tersebut dikeluhkan pedagang di pinggir Jalan Raya Ir. Sutami Sribhawono karena dinilai mengganggu arus lalu lintas, Jumat (2/10/2026).
Menanggapi hal itu, Pengawas SPBU Srimenanti, Mohammad Yaka, memberikan klarifikasi.
Menurut Yaka, pihaknya tidak mengetahui secara pasti penyebab membludaknya antrean, karena pasokan BBM setiap hari selalu tersedia.
“Untuk penyebabnya antrean saat orang beli BBM baik solar maupun pertalite kami tidak tahu persis apa penyebabnya. Dikarenakan setiap hari minyak kita selalu ada,” kata Yaka kepada media.
Yaka menjelaskan, kewenangan pengaturan antrean pihaknya hanya sebatas di zona SPBU. Jika antrean di luar area SPBU mengganggu pedagang atau pengguna jalan, masyarakat dipersilakan melapor ke pihak terkait atau Aparat Penegak Hukum (APH).
“Kalau masyarakat di sekitar SPBU yang berjualan dan terganggu adanya antrean mobil saat pengisian BBM bisa langsung menyuruh pergi atau melapor ke pihak terkait. Karena itu bukan jangkauan kita. Untuk wilayah antre pembelian BBM itu hanya di zona SPBU saja, kalau di luar SPBU itu bukan areal kita dan bukan pula wewenang kita,” jelasnya.
Terkait pasokan, Yaka menyebut pengiriman BBM tidak menentu.
“Dalam sehari itu pengirimannya tidak menentu, kadang 8 KL kadang juga per tiga hari ada 16 KL,” ujarnya.
Ia menambahkan, pihaknya sudah menerapkan sistem barcode untuk mencegah penyalahgunaan.
“Sebenarnya pengisian BBM itu sudah sesuai dengan barcode kendaraannya. Kalau tidak ada barcode tidak diisi oleh petugas pengisian BBM baik itu pertalite maupun solar. Kalau tidak sesuai barcodenya nanti bisa disalahgunakan oleh pelangsir-pelangsir yang menyalahi aturan nantinya. Kalau memang ada penyimpangan masyarakat bisa melaporkan ke kami, dan kami juga akan memantau kalau tidak sesuai,” pungkasnya.
Sementara itu, keluhan sopir masih berlanjut. Subandri, warga Waringin Jaya, mengaku harus mengantre sejak subuh.
“Saya ngantri di sini habis subuh, paling lama nanti jam 11.00 WIB baru pulang kalau dapat solar kalau tidak banyak mobil. Hari ini positif dapat solar karena informasi dari SPBU ada 16 ton, yang penting kita sabar ngantrinya,” kata Bandri.
Ia berharap pemerintah mempermudah akses solar. “Beli BBM solar ngantri seperti ini sudah 1 bulan ini. Kita ngisi BBM jenis solar itu hanya Rp280 ribu saja untuk pribadi, hanya sekali saja. Yang penting orang-orang saya di kebon bisa kerja itu aja sudah,” ungkapnya.
Senada, Aceng warga Bandar Agung mengaku sudah antre sejak pukul 07.00 WIB.
“Saya berharap kepada pemerintah, untuk kebutuhan BBM itu harus ditambah kuotanya biar tidak ngantri seperti ini menyusahkan masyarakat saat bepergian. Antrean kayak gini hampir setiap hari,” pungkasnya. (*)