Klik Gambar

Jakarta-Halopaginews.com- Konsep konstitusionalisme demokratis dan negara hukum menempatkan hukum, politik, dan demokrasi dalam satu lingkaran kausalitas. Ketiganya saling mengunci, saling mempengaruhi, dan tidak bisa berdiri sendiri.
Ketua GEMASIC Indonesia Dr. Wahdi, Sp.OG (K-Obginsos), S.H., M.H. menegaskan, negara modern ditopang tiga pilar utama: hukum, politik, dan demokrasi. Ketiga pilar ini adalah ekosistem yang menentukan sehat atau tidaknya penyelenggaraan pemerintahan.
“Ketika ekosistem ini terganggu, negara akan masuk dalam fenomena democratic backsliding atau pelemahan institusi,” ujarnya Wahdi kepada media Halopaginews.com melalui via Watshapp Rabu (5/8/26).
Dr. Wahdi memvisualisasikan dampak berantai jika salah satu pilar disalahgunakan:
1.Politik Mendominasi Hukum Lahir otokrasi legalistik. UU jadi alat legitimasi kekuasaan atau pesanan oligarki. Ini rule by law bukan rule of law.
2.Demokrasi Prosedural Demokrasi hanya sebatas pemilu tanpa penegakan hukum adil dan partisipasi bermakna. Muncul tyranny of the majority yang menindas hak minoritas.
3.Hukum Mandul Penegakan hukum tebang pilih. Kepercayaan publik runtuh, muncul pembangkangan sipil, hingga ekonomi melemah karena investor kehilangan kepastian hukum.
“Korupsi politik juga lahir dari sini. Pemilu mahal memicu lingkaran setan untuk mengembalikan modal kampanye,” tegasnya.
Menurut Dr. Wahdi, relasi ketiganya sederhana:
1.Hukum adalah produk politik. UU dibuat lewat keputusan politik Pemerintah dan DPR.
2. Politik diatur oleh hukum. Agar tidak sewenang-wenang, tata kelola politik harus dibatasi hukum.
3.Demokrasi sebagai pengendali. Kedaulatan rakyat memastikan hukum dan politik berjalan untuk melayani rakyat, dengan prinsip equality before the law.
“Hubungannya adalah tentang keseimbangan. Hukum memberi stabilitas dan batasan moral. Politik memberi energi dan arah kebijakan. Demokrasi menjamin keadilan dan suara rakyat,” jelas akademisi ini.
“Jika salah satu pilar runtuh, negara tidak lagi melayani rakyat, melainkan melayani dirinya sendiri,” pungkasnya. (*)