Klik Gambar

Lampung Timur-(HPN)- Perhelatan Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) di Kabupaten Lampung Timur pada akhir bulan Oktober 2023 untuk 112 desa yang masa akhir jabatannya habis tanggal 31 Desember 2023 mendatang menjadi momentum penting bagi setiap warga dalam menentukan pilihan politiknya yakni pemimpin desa setempat untuk enam tahun ke depan.
Pernyataan tersebut, disampaikan Supriyono, anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Lampung Timur Bidang Organisasi,Kaderisasi dan Kelembagaan (OKK) yang juga mantan Jurnalis Televisi Swasta Nasional ini, Minggu (02/07/2023).
Hal itu disampaikan oleh Supriyono mengaku siap maju berkompetisi dalam Pemilihan Kepala Desa tersebut.” Insyaallah jika masyarakat desa Mataram Baru memberikan amanah untuk memimpin desa, saya siap maju sebagai calon kepala desa (Cakades).
“Tapi perlu dipahami bersama, jika politik itu dinamis tidak bisa dipaksakan karena setiap orang punya hak untuk menentukan pilihannya, ” Kata Supriyono kepada media.
Supriyono juga menjelaskan, menjadi pemimpin atau kepala desa itu tidak mudah. Pertama harus mampu mengayomi masyarakat, apalagi kepala desa itu bapaknya warga, harus paham karakter masyarakatnya.
“Kedua memiliki pengalaman birokrasi pemerintahan desa dan paham tentang bagaimana menjalin hubungan dengan pemerintah daerah, pemerintah provinsi dan pemerintah pusat sehingga desanya mendapatkan kue pembangunan, ” jelasnya.
“Ketiga kepala desa juga jabatan politik karena dipilih masyarakat, sehingga harus mampu menjalin komunikasi politik dengan pemimpin daerah, jangan sampai terputus karena berdampak pada pembangunan desa.
Selain itu, kepala desa harus memiliki visi dan misi yang jelas untuk membangun desa, tidak boleh obral janji karena akan ditagih oleh masyarakat. Kemudian kepala desa harus memahami tugas pokok dan fungsinya serta berani mengambil resiko dalam setiap kebijakan,” Terangnya Supriyono.
Dirinya juga berharap ke depan jika di Desa Mataram Baru dalam Pilkades mendatang terdapat beberapa calon yang maju, mari kita menjaga persatuan, kebersamaan, kekeluargaan, keamanan untuk menciptakan sistem demokrasi, “tambahnya.
“Ada berbeda pilihan itu hal yang biasa dalam kontestasi politik. Politik itu dinamis tidak ada yang abadi, tentunya yang terpilih mari kita dukung untuk membangun desa. Artinya, dalam setiap politik konsekuensinya kalah menang hal biasa, tidak boleh dibawa perasaan (baperan),”cetusnya. (**)