Klik Gambar

Kota Metro-Halopaginews.com- Dr.Wahdi, Sp.OG (K) Subsp. Obginsos,SH,MH. mewakili Provinsi Lampung dalam acara PAKIAS Award 2025 yang diselenggarakan oleh Perkumpulan Obstetri Ginekologi Indonesia (POGI).
PAKIAS Award merupakan penghargaan tahunan yang diselenggarakan oleh Perkumpulan Obstetri Ginekologi Indonesia (POGI) yang diberikan kepada POGI cabang yang menunjukkan keberhasilan nyata dan terukur dalam menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI).
Provinsi Lampung menjadi nominasi bersama dengan 4 Provinsi diantaranya ; Sumatera Utara, Jambi, Sumatera Selatan dan DKI Jakarta dalam ajang PAKIAS AWARD 2025 dari Perkumpulan Obstetri Ginekologi Indonesia (POGI).
Dr.Wahdi, SpOG mewakili POGI Lampung mempresentasikan Program Kerja PAKIAS ( Penurunan Angka Kematian Ibu, Anak dan Stunting) Lampung, dengan Judul “UPAYA KOLABORATIF DALAM MENINGKATKAN KESEHATAN IBU,ANAK dan PENCEGAHAN STUNTING di PROVINSI LAMPUNG,”
Acara penilaian ini dilakukan secara daring melalui zoom meeting presentasi. Bertindak selaku juri adalah Prof.Ovi Dwiyana yang juga sebagai ketua Pokja PAKIAS POGI, Profesor Dety, Dr.dr.Hoed, dr.Hani dari Kemenkes.
Dr. dr.Wahdi menyampaikan bahwa, pentingnya kolaborasi semua pihak yaitu Pemerintah bersama non pemerintah. Kepala daerah harus memberi perhatian penuh kepada 5 hal dalam pembangunan millenium (15 tahunan).
“Penurunan angka kemiskinan, Penganguran, Angka kematian ibu dan anak, Indeks Pembangunan Manusia, Angka Ketimpangan. Khusus dalam penurunan angka kematian ibu dan anak,” ujar dr. Wahdi secara zoom meeting, pada Senin, 14 Juli 2025.
Menurutnya, dalam penilaian dihadapan juri pentingnya nilai kolaborasi JAMA – PAI ( Jaringan Masyarakat Peduli Anak dan Ibu ) dan implementasi MATERNAL EARLY WARNING SCORE untuk digunakan secara berkelanjutan dalam upaya mendeteksi secara dini adanya keterlambatan dalam 3 hal diantaranya;
“Pertama, Keterlambatan mengenal bahaya pada kehamilan, persalinan dan nifas. Kedua, Keterlambatan merujuk ke fasilitas rujukan yang optimal. Ketiga, Keterlambatan mendapat penanganan optimal di fasilitas rujukan,” ungkap dr. Wahdi.
Selain itu, Kolaboratif JAMA – PAI dalam 7 pilar diantaranya; Prakonsepsi, Kehamilan, Menyusui, Perkembangan Usia Anak, Perkembangan usia remaja, GERMAS (Gerakan Masyarakat Hidup Sehat) dan PHBS ( Pola Hidup Bersih dan Sehat) serta STBM ( Sanitasi Total Berbasis Masyarakat).
Lebih lanjut dr. Wahdi menjelaskan bahwa, Kolaborasi JAMA- PAI yang berati juga gotong royong bersama, bila dilaksanakan semua pihak ( PENTAHELIX).
“Percepatan penurunan Angka kematian ibu dan anak serta stunting di Provinsi Lampung di 15 kabupaten dan kota akan mencapai target SDGs ( Sustainable Development Goals) yaitu Angka kematian ibu kurang 70/100.000 Kelahiran Hidup dan Angka kematian anak kurang 12/1000 Kelahiran Hidup dan ZERO STUNTING sebelum 2030,”ungkap dr. Wahdi.
“Pembangunan berkelanjutan akan memperhatikan siklus kehidupan manusia (Continum Care Across the Life Cycle) yang merupakan dimensi penting dalam Inovasi Tata kelola Pemerintah dalam mensejahterakan masyarakat melalui kearifan lokal Lampung yaitu ” JAMA PAI / bergotong royong,” tambah dr. Wahdi.
Sebagai informasi, Lampung masuk nominasi karena dianggap baik dalam penurunan angka kematian ibu dengan ratio 59/100.000 KH. Penurunan Stunting 15,9 di 2024. Adapun penilaian meliputi :
Pertama, Inovasi Program: yaitu orisinalitas pendekatan dan kreatifitas solusi. Kedua, Efektifitas dan dampak: capaian yang dapat dibuktikan secara kuantitatif. Ketiga, Keterlibatan lintas sektor: kemampuan menjalin kerjasama multipihak. Keempat, Keberlanjutan: potensi replikasi dan keberlanjutan jangka panjang. (*)