Sekolah Seni Lampung Timur Mengasah Bakat Seni Generasi Muda

| π•Ώπ–Šπ–—π–Žπ–’π–†π–π–†π–˜π–Žπ– π•΅π–†π–‰π–Ž π•»π–Šπ–’π–‡π–†π–ˆπ–† π•Ύπ–Šπ–™π–Žπ–†.

Klik Gambar

Lampung Timur-Halopaginews.com- Sekolah Seni Lampung Timur atau Lamtim Art School (LAS) 2026 yang lahir dari kesadaran bahwa pembangunan Daerah khususnya Kabupaten Lampung Timur tidak hanya membutuhkan infrastruktur fisik dan pertumbuhan ekonomi saja.

Tetapi juga dibutuhkan ruang-ruang yang memungkinkan agar para generasi muda dapat tumbuh dan berkembang sebagai manusia yang kreatif, percaya diri, mampu bekerja sama dan memiliki hubungan yang kuat dengan kebudayaan.

Ditengah perubahan sosial yang semakin cepat dan tantangan masa depan yang semakin kompleks, anak-anak dan remaja memerlukan kesempatan untuk mengembangkan berbagai kemampuan yang tidak selalu dapat diperoleh melalui pendidikan formal semata.

Pemerintah Kabupaten Lampung Timur melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan menyelenggarakan program Lamtim Art School atau Sekolah Seni Lampung Timur, sebuah program pendidikan seni yang melibatkan lebih dari seratus peserta dari berbagai kelompok usia dari beberapa Kecamatan.

Para peserta mengikuti proses kegiatan belajar dalam bidang seni tari, musik, teater dan seni rupa yang didampingi oleh para fasilitator yang handal dan profesional.

Program ini dikembangkan dengan pendekatan partisipatoris, para peserta tidak ditempatkan sebagai penerima pengetahuan semata, melainkan sebagai bagian aktif dalam proses pembelajaran. Mereka diajak untuk melihat, bertanya, bereksplorasi, menyampaikan gagasan dan menghubungkan pengalaman hidup mereka dengan proses berkesenian.

Seni dipahami bukan hanya sebagai keterampilan artistik, tetapi juga sebagai medium pengembangan diri yang membantu peserta mengenali potensi, membangun kepercayaan diri, meningkatkan kemampuan berkomunikasi, bekerjasama dan memahami lingkungan sosial serta budaya disekitarnya.

Resital ini merupakan bagian dari proses tumbuh mereka sebagai penanda perjalanan belajar yang telah dilalui bersama. Di dalamnya terdapat latihan, eksplorasi, percobaan, kegagalan, keberanian, kerjasama dan berbagai kemungkinan baru yang tumbuh selama proses berlangsung.

Kelas Tari: Anak-anak Penjaga Bumi

Kelas Tari LAS 2026 diikuti oleh sekitar 60 (enam puluh) orang peserta dari berbagai kelompok umur. Peserta diperkenalkan tentang dasar-dasar tari, tentang tubuh sebagai perangkat utama ekspresi atau tubuh sebagai bahasa ungkap utama karya seni.

Secara bertahap mereka diperkenalkan bentuk-bentuk latihan, bentuk dan pola gerak, pola lantai, levelitas, komposisi, penggunaan ruang, fleksibilitas dan lain sebagainya. Peserta kelas diajak belajar mengenali beberapa bentuk tari tradisi Lampung sebagai bagian dari pengenalan kepedulian terhadap warisan budaya daerah. Dari proses ini, fasilitator dapat memetakan kemampuan dan potensi mereka.

Karya tari pada resital ini lahir dari proses kreatif selama 3 bulan yang melibatkan anak-anak dan remaja dalam eksplorasi gerak berbasis permainan, interaksi dan pengalaman keseharian. Melalui berbagai latihan improvisasi dan kerja kelompok peserta mengembangkan beragam bentuk, pola lantai dan komposisi yang berangkat dari semangat bermain sebagai cara alami anak-anak mengenali diri, membangun relasi dan memahami dunia sekitarnya. Tari kemudian menjadi ruang untuk merayakan rasa ingin tahu, kegembiraan kebersamaan dan kebebasan berekspresi.

Berangkat dari konteks Lampung Timur yang dekat dengan keberadaan gajah sebagai bagian penting dari identitas ekologis dan budaya daerah, karya ini juga mengajak peserta menumbuhkan kesadaran tentang hubungan manusia dan alam. Sosok gajah dihadirkan bukan sebagai representasi harfiah, melainkan sebagai simbol kehidupan yang perlu dijaga bersama. Melalui gerak, anak-anak dan remaja membayangkan dunia yang lebih harmonis, tempat manusia hidup berdampingan dengan lingkungan serta memiliki tanggung jawab untuk merawatnya.

Pertunjukan ini memanfaatkan area Tugu Gajah sebagai ruang publik yang diaktifkan kembali melalui tubuh dan gerak. Balon-balon air, kain-kain warna-warni, serta formasi yang terus berubah menghadirkan suasana yang riang, dinamis dan penuh harapan. Di tengah ruang terbuka, karya ini menjadi perayaan atas imajinasi, kebersamaan dan masa depan yang sedang tumbuh sebuah ajakan untuk melihat bahwa kepedulian terhadap alam dan kehidupan bersama dapat dimulai dari permainan, kreativitas dan langkah-langkah kecil yang dilakukan secara kolektif.

Baca Juga :  PLN Lakukan Opal Di Kantor Metrologi Legal Dinas Perdagangan Tuba

Kelas Musik: Persahabatan, Imajinasi dan Kepedulian

Selain mempelajari kemampuan teknis bermain musik, peserta diajak memahami musik sebagai praktik mendengarkan dan bekerja sama. Dalam proses belajar, peserta sekitar 20 (dia puluh) orang yang komitmen mengikuti program ini didebatkan dalam penciptaan lagu secara kolektif. Mereka diberi ruang untuk menyumbangkan pengalaman, gagasan dan cerita yang kemudian diolah bersama menjadi karya. Berbagai tema yang muncul berangkat dari kehidupan sehari-hari mereka, seperti kenyataan sosial, keadaan lingkungan serta imajinasi masa depan.

Selama proses ini, peserta tidak hanya belajar memainkan musik, tetapi juga belajar tentang etika, adab-adab latihan, kesadaran terhadap proses yang mereka jalani, keberanian berpendapat serta menemukan bahwa setiap orang memiliki kontribusi penting dalam sebuah karya bersama (kolaborasi).

Model pembelajaran yang partisipasitoris ini membuat mereka dapat berkarya dengan nyaman, ruang aman bagi imajinasi remaja yang liar lucu dan tak terduga. Mereka bertanya: “bagaimana jika aku tinggal di bulan bernyanyi bersama Blackpink? Bagaimana jika dinosaurus ada di Way Kambas? Bagaimana Presiden?” Dari pertanyaan-pertanyaan sederhana itu, muncul pula refleksi tentang kehidupan yang mereka jalani: “semua bisa dicapai jika jalan tak lagi jelek dan berlubang, jika tak ada mati listrik, jika ada jalan tol…” Imajinasi dan kenyataan bertemu dalam satu ruang yang sama, memperlihatkan cara anak-anak memandang dunia dengan jujur sekaligus penuh harapan.

Musik juga menjadi medium untuk menyuarakan kesadaran ekologis, merekam kegelisahan terhadap lingkungan: “sungai kian surut menjauhi batas laut, ikan-ikan berenang di sungai yang lain, laut yang lain, dunia yang lain dan yang tersisa hanyalah ruang yang tetap abu-abu.” Lirik ini menunjukkan bahwa anak-anak dan remaja tidak hanya hidup di tengah perubahan lingkungan, tetapi juga mulai menyadari dan merasakan dampaknya. Mereka mengubah kegelisahan tersebut menjadi nyanyian, menjadikan musik sebagai cara untuk mengingat, mempertanyakan sekaligus merawat harapan.

Kelas Teater: Petualang, Literasi dan Ekologi.

Melalui bermain peran, improvisasi, latihan tubuh, olah rasa, olah vokal dan eksplorasi tematik, peserta belajar membangun keberanian, disiplin, empati dan kemampuan bekerjasama. Di kelas teater, sekitar 30 (tiga puluh) orang peserta dari berbagai level usia dengan tekun mengikuti setiap materi latihan.

Selama tiga bulan mereka berkomitmen mereka mengikuti proses pembelajaran yang tidak hanya berfokus pada kemampuan tampil di atas panggung, tetapi lebih pada kemampuan memahami diri mereka, kedisiplinan, membangun rasa kebersamaan, mengembangkan imajinasi dan kemampuan berkomunikasi. Melalui seni kolektif ini, peserta belajar bahwa teater bukan sekedar bermain peran, melainkan cara untuk memahami diri sendiri dan memahami kehidupan dari sudut pandang orang lain.

Mengusung tajuk Petualang Mimpi dan Buku Misteri, kelas teater menampilkan satu nomor pertunjukan berdurasi sekitar empat puluh menit. Satu karya yang lahir dari premis sederhana yaitu buku sebagai jendela dunia. Buku sebagai sumber pengetahuan yang mendorong mereka berani menjelajahi dunia yang dibayangkan.

Kelas ini mengajak peserta mulai membangun kebiasaan membaca, bertanya dan mengamati kehidupan sehari-hari, termasuk menumbuhkan rasa kepedulian terhadap lingkungan. Manifestasi kesadaran tersebut dicerminkan melalui permainan teater yang sederhana namun kreatif, didukung oleh kostum serta instrumen yang berasal dari lingkungan terdekat mereka; sarung, ember, kaleng, piring, sendok dan berbagai benda keseharian yang diolah menjadi elemen artistik dan memperkaya pertunjukan sekaligus menunjukkan bahwa kreativitas dapat tumbuh dari hal-hal yang paling dekat dengan kehidupan anak-anak.

Baca Juga :  Mempererat Tali Silaturahmi: Kunjungan SMSI Lampung Timur ke Wakil Bupati Azwar Hadi

Kelas Seni Rupa Anak: Imajinasi tentang Kota (Dunia Yang Dibayangkan)

Bagi anak-anak, seni adalah cara bermain, bercerita dan memahami dunia. Selama tiga bulan mengikuti Lampung Timur Art School, para peserta kelas seni rupa anak diperkenalkan pada berbagai aktivitas dasar seperti menggambar, mewarnai, menggunting, menyusun dan menempel.

Melalui kegiatan-kegiatan tersebut, mereka belajar mengenal bentuk, warna dan tekstur sekaligus mengembangkan keberanian untuk menuangkan gagasan serta pengalaman mereka ke dalam karya visual.

Berangkat dari keseharian, cerita yang mereka dengar, lingkungan yang mereka kenal, hingga berbagai tontonan yang mengisi dunia imajinasi mereka. Anak-anak diajak membayangkan sebuah kota masa depan.

Dalam prosesnya, mereka tidak hanya menggambar atau membuat objek secara individual, tetapi juga menyusun berbagai elemen visual menjadi sebuah instalasi kolektif.

Gedung-gedung tinggi, jalan raya, taman bermain, sekolah, kendaraan hingga berbagai bentuk yang lahir dari khayalan mereka bertemu dalam satu ruang yang menggambarkan dunia yang mereka impikan.

Instalasi ini memperlihatkan cara anak-anak memandang masa depan penuh warna, kemungkinan dan harapan. Di dalamnya, batas antara kenyataan dan imajinasi menjadi cair.

Karya-karya yang tersusun tidak berusaha menghadirkan kota yang realistis, melainkan kota yang diinginkan, sebuah ruang yang lebih menyenangkan, lebih indah dan lebih ramah bagi kehidupan.

Melalui karya ini, kita diajak melihat bahwa imajinasi bukan sekedar permainan anak-anak, melainkan cara awal untuk membayangkan dan menciptakan masa depan yang belum ada.

Kelas Seni Rupa Remaja: Menatap Identitas

Peserta kelas seni rupa remaja yang diikuti sekitar 15 (lima belas) orang peserta ini menjalani proses kreatif yang berangkat dari pengalaman dan refleksi diri. Pada tahap awal, mereka diperkenalkan tentang garis, arsiran, perspektif, membuat sketsa dan eksplorasi material.

Lalu mengamati lingkungan sekitar, berbagi pengalaman dan mendiskusikan berbagai persoalan yang dekat dengan kehidupan remaja, seperti pencarian identitas, kesulitan menyampaikan pendapat, kesepian hingga tekanan untuk memenuhi harapan orang lain.

Tema-tema tersebut kemudian dikembangkan melalui proses sketsa, pencarian referensi, diskusi dan eksperimen visual. Fasilitator mendampingi peserta untuk menemukan cara ungkap yang sesuai dengan pengalaman dan kemampuan teknis masing-masing, sehingga setiap karya tumbuh dari gagasan personal dan autentik. Melalui sesi umpan balik dari refleksi bersama, peserta belajar mengolah ide, mempertajam konsep sekaligus membangun kepercayaan diri dalam menyampaikan pandangannya melalui bahasa visual.

Penutup

Lampung Timur Art School merupakan langkah awal dalam membangun ekosistem seni dan budaya yang berkelanjutan di Kabupaten Lampung Timur. Program ini memperlihatkan bahwa seni dapat menjadi medium pendidikan alternatif yang mempertemukan kreativitas, disiplin, kerjasama dan pengembangan karakter dalam satu proses yang utuh.

Melalui kerjasama antara Pemerintah Kabupaten Lampung Timur, Lampung Timur Art School, sekolah, orangtua dan berbagai pemangku kepentingan lainnya, program ini berupaya membuka ruang tumbuh yang lebih luas bagi generasi muda.

Resital hari ini bukanlah akhir dari perjalanan tersebut, melainkan penanda awal dari sebuah upaya jangka panjang untuk membangun masyarakat yang kreatif, berbudaya dan siap menghadapi masa depan bersama.

Oleh: Semi Ikra Anggara Koordinator Tim Kerja Lamtim Art School. (RK)

Dilaporkan oleh : Redaksi Umum

Eksplorasi konten lain dari halo pagi news

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca