Klik Gambar

Lampung Timur-Halopaginews.com- Rupanya bangunan gedung TK PGRI 4 Desa Selorejo Kecamatan Batanghari Kabupaten Lampung Timur sedang menjadi perbincangan.
Soalnya, seorang warga lingkungan setempat memperbincangkan masalah keberadaan lokasi bangunan gedung TK PGRI 4 Selorejo tersebut sejak awal berdirinya.
Ceritanya, awal mula kegiatan belajar mengajar (KBM) murid-murid TK PGRI 4 Selorejo menggunakan perumahan SDN 2 Selorejo yang tak jauh hanya berjarak lebih kurang 500 meter.
“Kalau bangunan TK bermasalah itu soal gampang, pindah aja ke perumahan SD sebab awalnya dulu numpang disitu,” ungkap warga di sekitar TK PGRI 4 Selorejo berinisial, Pm pada Kamis, 1 Januari 2025 sekira jam 08.30 WIB.
Perintis pendiri TK PGRI 4 Selorejo bernama Sri berasal dari bedeng 52A, lalu Sri mengajak Drs. Sulana suami Sri Astuti alias Tuti Kepala TK-PGRI-4 Selorejo untuk bekerjasama.
“Dulu, Bu Sri asal dari 52A yang merintis TK PGRI ini, dia ngajak Drs. Sulana suami Tuti (Sri Astuti) untuk kerjasama kebetulan dia nganggur,” terangnya.
Singkat cerita, setelah Drs. Sulana menerima sertifikasi dan Sri Astuti jadi TKW, lalu Drs. Sulana membangun TK PGRI 4 Selorejo ditanah pekarangan didepan rumah milik mereka pribadi.
Akhirnya, lokasi KBM murid-murid TK PGRI 4 Selorejo pindah menggunakan bangunan gedung baru yang dibangun oleh Drs. Sulana ditanah pekarangannya.
“Setelah pak Sulana diangkat jadi Kepala TK PGRI 4 dan dapet sertifikasi, bu Tuti kerja di luar negeri, Drs. Sulana bangun TK itu ditanah pekarangannya, kami masyarakat disini ikut bantu sambatan (gotong royong),” jelasnya.
Pihaknya tidak mengetahui tentang struktur organisasi TK PGRI 4 Selorejo khususnya Bendahara dan Komite.
“Kalau urusan TK saya nggak tau, tapi kalau SDN 2 Selorejo itu kita tau semua mulai dari Ketua Komite, pengurus-pengurus sampai Bendaharanya,” paparnya.
Sri Astuti menjabat Kepala TK PGRI 4 Selorejo sebagai pengganti Drs. Sulana suaminya setelah meninggal dunia 2 tahun lalu dan bukan 12 tahun.
“Dia gantiin Drs. Sulana suaminya yang ninggal sekitar 2 tahun, dia ngomong jadi Kepala TK PGRI 4 Selorejo sudah 12 tahun, itu salah, tapi kalau TK dibangun disitu udah lama lebih dari 12 tahun,” imbuhnya.
Terkait izin pendirian dan operasional TK PGRI 4 Selorejo warga tersebut tidak mengetahui, namun sesuai dengan prosedur bernaung di YPLP PGRI.
“Kalau masalah ijinnya kita nggak tau kemana, menurut prosedur dia ijin ke PGRI di wakafkan itu sebatas diperlukan PGRI, kalau sudah nggak memerlukan balik lagi kerumah pribadi,” paparnya.
“Tapi status sekolah itu di wakafkan dulu secara formalitas tapi kalau di wakafkan bedol ini ya berat karena itu pekarangan rumah dia,” cetusnya.
“PGRI juga nggak mau harus wakaf mutlak hak PGRI ya nggak mungkin karena itu tanah pekarangan dia kalau ngebangunnya masyarakat terlibat,” katanya.
“Saya bilangin kalau itu bermasalah gampang tinggal ngomong sama Kepala SDN 2 Selorejo. TK PGRI mau gabung lagi disitu karena TK itu menunjang keberlanjutan SD,” pungkas seorang pensiunan itu.
Namun sayangnya, bangunan gedung TK PGRI 4 Selorejo tersebut tidak dilengkapi toilet dan sanitasi air bersih sebagai prasarana penting.
Kondisi tersebut diketahui pada saat Wartawan media ini berkunjung dan ingin buang air kecil tak menemukan toilet dan sanitasi air bersih.
Ketika akan numpang ke toilet dirumah Sri Astuti Kepala TK PGRI 4 Selorejo semua akses tertutup baik pintu ruang tamu maupun samping rumah.
Sementara Sri Astuti sedang keluar meninggalkan tamunya hingga berjam-jam lamanya sampai tamunya pulang
pada, 17 Desember 2025.
Ketika kembali didatangi pada, 29 Desember 2025 dan pada, 1 Januari 2026, Sri Astuti sembunyi dalam rumah tak menampakkan batang hidungnya.
Begitu juga dengan nomor handphone Sri Astuti sangat sulit untuk dihubung baik melalui telepon maupun pesan WhatsApp sebab telah dinonaktifkan.
Apakah 40 orang murid atau orangtua murid dan 3 orang guru TK PGRI 4 Selorejo harus pulang kerumah saat ingin buang air kecil maupun besar. (ROPIAN KUNANG)