Bedah Buku: Spirit Dan Konsep “Sukadana Darussalam” KH. Ahmad Hanafiah

| π•Ώπ–Šπ–—π–Žπ–’π–†π–π–†π–˜π–Žπ– π•΅π–†π–‰π–Ž π•»π–Šπ–’π–‡π–†π–ˆπ–† π•Ύπ–Šπ–™π–Žπ–†.

Klik Gambar

Lampung Timur-Halopaginews.com- Bedah Buku: Spirit Dan Konsep “Sukadana Darussalam” KH. Ahmad Hanafiah

Berdasarkan Kitab Karya KH. Ahmad Hanafiah: Al-Hujjah dan Tafsir Sirr Al-Dahr

I. Apa sebenarnya spirit yang terkandung dalam kitab beliau?

Kitab-kitab KH. Ahmad Hanafiah bukan sekadar teks keagamaan biasa, melainkan manifestasi pemikiran dan jiwa perjuangan beliau. Spirit utamanya dapat dirangkum dalam tiga kata kunci: Kebenaran, Waktu dan Kemerdekaan.

1. Spirit Al-Hujjah: Kekuatan Argumen dan Keadilan

– Makna: Al-Hujjah berarti “Bukti yang Kuat” atau “Argumen yang Tak Terbantahkan”.
– Isi: Kitab ini membahas hukum Islam, fikih, dan jawaban atas problematika umat.
– Spiritnya:”Berpegang Teguh pada Kebenaran dan Keadilan.”

Beliau mengajarkan bahwa setiap tindakan, baik dalam Pemerintahan, ekonomi, maupun kehidupan sosial, harus memiliki dasar hukum yang jelas dan adil.

Tidak boleh ada penindasan, kecurangan atau ketidakjelasan.

Spirit ini yang kemudian menjadi landasan beliau berjuang melawan penjajah karena penjajahan adalah bentuk ketidakadilan yang bertentangan dengan hukum Allah dan kemanusiaan.

2. Spirit Sirr al-Dahr: Memaknai Waktu dan Sejarah

– Makna: Sirr al-Dahr berarti “Rahasia Waktu” atau “Misteri Zaman”.
– Isi: Kitab ini adalah tafsir yang berfokus pada Surat Al-Asr, yang mengajarkan tentang pentingnya memanfaatkan waktu.
– Spiritnya:”Jangan Menjadi Orang yang Rugi dalam Sejarah.”

Beliau mengingatkan bahwa hidup ini singkat. Manusia akan rugi besar jika tidak mengisi waktu dengan iman, amal saleh, dan karya nyata. Spirit ini mendorong beliau dan generasinya untuk bertindak cepat demi membebaskan tanah air dan membangun peradaban, sebelum waktu berlalu sia-sia.

3. Spirit Perpaduan: Islam dan Nasionalisme

Baca Juga :  Menyimpan Narkoba, Seorang Pemuda Terciduk Polres Lampung Timur

– Inti: Dalam kedua kitab tersebut, tersirat pesan bahwa Islam dan Cinta Tanah Air tidak bertentangan, melainkan saling melengkapi.

Beliau membuktikan bahwa menjadi ulama yang taat beragama tidak berarti mengabaikan kewajiban membela negara. Justru, mempertahankan kemerdekaan adalah bagian dari ibadah dan menjaga agar nilai-nilai Islam bisa diterapkan dengan bebas.

II. Mengapa beliau selalu mengatakan “Sukadana Darussalam”?

Beliau tidak hanya menyebutnya sebagai nama atau slogan, tetapi sebagai Visi dan Doa yang mendalam.

1. Secara Bahasa dan Harapan

– Darussalam artinya “Negeri Damai” atau “Negeri Keselamatan”.
– Beliau ingin Sukadana menjadi tempat di mana penduduknya hidup dalam keamanan, ketenangan dan berkah, jauh dari perpecahan, kekacauan dan penindasan.

2. Sebagai Identitas dan Jati Diri

– Sukadana adalah tempat kelahiran beliau, pusat pendidikan pesantren tertua di Lampung dan basis perjuangan.
– Dengan menyebutnya “Darussalam”, beliau ingin menegaskan bahwa Sukadana adalah kota santri, kota ilmu, dan kota yang dijaga oleh nilai-nilai suci.

3. Sebagai Tujuan Akhir Perjuangan

– Beliau berperang dan berjihad bukan untuk kekuasaan semata, tetapi agar tercipta kondisi di mana rakyat bisa beribadah dengan tenang, berdagang dengan jujur, dan hidup berdampingan dengan rukun. Itulah definisi sebenarnya dari Darussalam.

III. Apa konsep beliau tentang “Sukadana Darussalam”?

Berdasarkan kitab dan tindakan beliau, konsep Sukadana Darussalam adalah sebuah Model Peradaban yang berdiri di atas 4 Pilar Utama:

Pilar 1: Kota Ilmu dan Kebenaran

– Sukadana harus menjadi pusat pendidikan dan penyebaran ilmu yang benar, berlandaskan Al-Quran dan Sunnah.
– Seperti ajaran dalam Al-Hujjah, masyarakatnya harus cerdas, berakal, dan mampu membedakan mana yang haq dan mana yang bathil.
– Pesantren dan masjid menjadi jantungnya kota.

Baca Juga :  Wujud Kemanunggalan TNI-Rakyat, Babinsa Gotong Royong Perbaiki JUT

Pilar 2: Kota Yang Adil Dan Berhukum

– Hukum ditegakkan tanpa pandang bulu. Pejabat dan rakyat sama di mata hukum.
– Tidak ada korupsi, tidak ada penindasan terhadap yang lemah.
– Ekonomi berjalan dengan jujur, seperti semangat Serikat Dagang Islam yang beliau pimpinβ€”bebas dari riba dan penipuan.

Pilar 3: Kota Yang Bersatu Dan Aman.

– Masyarakat hidup rukun, saling menghormati dan solid.
– Keamanan terjamin sehingga orang bisa beraktivitas dengan tenang siang dan malam.
– Persatuan ini adalah modal utama untuk bertahan dan maju, sebagaimana beliau mempersatukan rakyat untuk melawan musuh.

Pilar 4: Kota Yang Produktif Dan Bermanfaat

– Berdasarkan spirit Sirr al-Dahr, warganya adalah orang-orang yang memanfaatkan waktu untuk bekerja keras, berkarya, dan beramal jariyah.
– Sukadana tidak hanya kota yang diam, tetapi kota yang bergerak maju, menghasilkan manfaat bagi daerah sekitarnya, dan meninggalkan jejak baik dalam sejarah.

Kitab-kitab KH Ahmad Hanafiah mengajarkan kita bahwa Sukadana Darussalam bukan sekadar mimpi, melainkan sebuah keniscayaan yang harus diperjuangkan.

Spiritnya adalah Kebenaran yang Tegas dan Waktu yang Tidak Boleh Disia-siakan.

Konsepnya adalah membangun kota yang Berilmu, Beradab, Adil, dan Sejahtera.

Maka, tugas kita sekarang adalah mewujudkan visi beliau tersebut dalam pembangunan fisik maupun mental masyarakat, agar Sukadana benar-benar menjadi Negeri Damai yang diberkahi Allah SWT. (Ropian Kunang/KTH)

Dilaporkan oleh : Redaksi Umum