Alur Anggota Kelompok Tani Beli Pupuk Subsidi Dikomentari Kepala Desa RJU II

| π•Ώπ–Šπ–—π–Žπ–’π–†π–π–†π–˜π–Žπ– π•΅π–†π–‰π–Ž π•»π–Šπ–’π–‡π–†π–ˆπ–† π•Ύπ–Šπ–™π–Žπ–†.

Klik Gambar

Lampung Timur-Halopaginews.com- Anggota Kelompok Tani (Poktan) Sido Mukti III Desa Rantau Jaya Udik II Kecamatan Sukadana bernama Muhammad Rokhim membeli pupuk subsidi melebihi harga eceran tertinggi (HET).

Ia membeli pupuk subsidi melebihi HET dengan harga mencapai Rp.310 ribu untuk 1 paket 100 kilogram masing-masing 2 karung urea seberat 50 kilogram dan NPK seberat 50 kilogram.

“Pupuk dapet terus dari Gapoktan (uang tebusan) masuk (diserahkan) di anggota, saya belinya (harga) 310 (ribu) satu paket 2 sak urea sama NPK”, tutur Muhammad Rokhim dirumahnya pada Rabu, 8 Mei 2024 sekitar jam 11.00 WIB.

Uang tebusan 1 paket pupuk bersubsidi Rp.310 ribu itu sebagian untuk uang kas dan sebagian lagi untuk biaya keperluan kepengurusan.

“Itukan dibagi lagi dimasukkan kas, sisa-sisanya masuk kas itu nanti katanya buat ngurus ngurus lagi”, kata Anggota Poktan Sido Mukti III tersebut.

Foto, Istimewa
Foto, Istimewa

Sebelumnya, Rokhim juga pernah nebus pupuk urea dan NPK subsidi mulai dari harga Rp.230 ribu – Rp.270 ribu perpaket.

“(Harga beli/tebusan) 270 ribu, yang dulu 250 ribu, 230 ribu pernah tapi udah lama sampai (harga) 310 ribu itu”, terang Muhammad Rokhim kepada Eko Wahyu Untoro besannya yang sedang bertamu bersama Tim Investigasi.

Bahkan, sejak Januari – Mei 2024 belum mendapat pupuk subsidi karena tidak terdata, sehingga ia sempat menegur Murni Ketua Poktan Sido Mukti III.

“Saya 2024 ini belum ngambil, datanya saya cari nggak ada, ini kelompok nggak ada datanya, disini saya tegor Ketua Kelompoknya, MURNI”, ungkap Muhammad Rokhim.

Rupanya, ia tak sendiri yang tak terdata, ternyata terdapat 2 anggota lainnya yang bernama Selam dan Maman Maryadi Bendahara Poktan Sido Mukti III.

“Ini yang ngeprint yang salah bukan dari (Poktan) kita, orang 3 disini, aku (Muhammad Rokhim), Selam, malah nama Bendaharanya yang juga nggak ada, Maman Maryadi”, paparnya.

Ia merasa Anggota senior tapi tidak mendapatkan pupuk subsidi, menurut Irhanif Korluh Pertanian Sukadana hal itu akibat kesalahan penginputan data.

“Saya tegur kemarin waktu mau ngambil pupuk nggak bisa, gimana anggota lama kok nggak bisa, kata pak Hanif yang ngeprint itu”, imbuhnya.

Sepengetahuannya, dahulu seluruh Anggota Poktan Sido Mukti III berjumlah 40 Anggota sekarang hanya 31 Anggota.

“Dulu ada 40 anggota berapa itu, tinggal 31 saya lihat kurang, ngeprintnya yang nggak bener”, jelasnya.

Karena datanya tidak diinput, Rokhim menegur Muslihin Ketua Gapoktan Rukun Sentosa dan juga Murni Ketua Poktan Sido Mukti III.

“Kemaren, saya tegor Ketua Gapoktan, saya tegur Ketua Kelompok Tani, data punya saya kok nggak masuk”, paparnya.

Akibat tidak mendapat pupuk subsidi, akhirnya Muhammad Rokhim terpaksa minta jatah kepada teman-temannya.

“Saya minta kalo nggak boleh (pupuk) punya temen-temen itulah yang saya dikasih jatah 1 kwintal dulu gitu aja”, urainya.

Untuk keperluan membajak lahannya tak tentu, terkadang Rokhim pakai hand traktor, terkadang menyewa traktor yang dikelola oleh Muslihin.

“Kadang-kadang edet, kadang-kadang (traktor) punya Muslihin itu, dulu waktu saya membajak masih 250 seperempat hektar, tapi dulu ngakunya itu dari dewan Mus itu”, urai Rokhim disaksikan anaknya dan besannya.

Berhubung datanya belum diinput, Ropin sebagai operatornya dimarahi oleh Muhammad Rokhim.

“Sampeyan belum diajukan oleh Ropin, Ropin saya datangi saya marahin, kok nggak diajukan aturannya diajukan, ditempat saya nggak ada datanya disana, datanya ada pak nggak dikasih”, katanya.

Dirinya lupa jabatan Ropin di Poktan Sido Mukti III, sedangkan ia tidak mendapat pupuk bersubsidi akibat kesalahan.

Baca Juga :  Lala, Balita Yang Sakit Jantung Dikunjungi Polsek Pasir Sakti

“(Ropin) Bendahara ataukah Sekretaris, bukan salah dari kita, pak Hanif yang salah ngeprint, tahun kemaren aktif terus, sekarang nggak kan lucu”, ujarnya.

Uang untuk biaya penebusan pupuk subsidi diserahkan oleh anggota ke Pengurus Kelompok Tani Sido Mukti III, lalu kemudian diserahkan ke Ketua Gapoktan Rukun Sentosa.

“(Uang tebusan) Saya (serahkan) ke kelompok saya, ketempat Gapoktan ke Muslihin”, cetusnya.

Pertanyaan Muhammad Rokhim, apakah hanya komoditas padi dan jagung saja yang diberi pupuk subsidi sementara ubi kayu atau singkong tidak.

“Apa betul yang dapat (pupuk) subsidi jagung sama padi (ya) cuma itu aja ya, singkong nggak ada, memang disuruh tanam padi, jagung”, tanyanya.

Di Propinsi Lampung pada umumnya Kabupaten Lampung Timur khususnya, mayoritas komoditas singkong justru tidak mendapatkan disubsidi pupuk.

“Bahkan mayoritas di Lampung kebanyakan singkong iya kan, bahan pokok itu singkong kok malah nggak dapet (pupuk) subsidi”, tutup Muhammad Rokhim.

Begitu juga Dalino Anggota Poktan Sido Mukti IV Desa Rantau Jaya Udik II seolah diistimewakan sebab hanya tebus pupuk NPK subsidi seharga Rp.150 ribu.

“(Anggota Poktan) Sido Mukti empat kalau (beli/nebus) pupuk itu 150 yang NPK, yang urea saya nggak nebus”, ungkap Dalino yang kebetulan bertamu dirumah Muhammad Rokhim.

Pembayaran uang tebusan pupuk NPK bersubsidi diserahkannya kepada Kormen Ketua Poktan Sido Mukti IV.

“(Uang diserahkan) sama Ketua (Poktan Sido Mukti IV) disini pak Kormen (dari dulu harga 150) iya dari awal. (Januari-april 2024) dapat (terus)”, tutur Anggota Poktan Sido Mukti IV itu.

Pucuk dicinta ulam pun tiba, saat sedang berbincang dengan Muhammad Rokhim, tiba-tiba datang tetangganya bernama Dalino Anggota Poktan Sido Mukti IV.

Dalino menceritakan, ia mendapatkan pupuk NPK subsidi 2 sak di 2 musim tanam selama setahun, itupun untuk tanaman singkong bukan padi atau jagung tidak sesuai komoditas.

“Cuman ya 1 sak. Pertama kan 2 kali dapet (nebus) pupuknya setiap musim tanam (setiap tahun) 2 kali (tanam), singkong kebanyakan”, katanya.

Lahan seluas 1 hektar hanya mendapat pupuk bersubsidi 1 sak 50 kilogram itu untuk seperempat hektar seharusnya 4 sak 200 kilogram.

Sesuai pengajuan dalam RDKK setiap petani khususnya anggota Poktan Sido Mukti IV lahan pertaniannya seluas 2 hektar.

“Kalau lahannya 1 hektar cuman disini yang ditanam kebanyakan seperempat, seharusnya kalau 1 hektar ya 1 hektar, gitu seharusnya (usulan dalam RDKK 2 hektar) iya 2 hektar”, terangnya.

Dalino tidak pernah menyewa traktor bantuan hibah Dinas Pertanian Lampung Timur yang dikelola oleh Muslihin yang dikemudikan oleh Irfan Taufik anak kandung Muslihin.

“Nggak, saya nggak pernah make, kalau (traktor) disana yang bawa anaknya pak Muslihin itu (Irfan Taufik) iya”, ungkap Mbah Dalino.

Tapi, selain uang pembelian pupuk subsidi diserahkan oleh masing-masing Anggota ke Pengurus Poktan, ada juga diantara Anggota Poktan langsung membeli ke Pengecer di gudang Lini IV Kios Rukun Sentosa.

Sebelumnya, menyikapi hal itu, Kepala Desa Rantau Jaya Udik II Kecamatan Sukadana mengatakan saat ini Muslihin Ketua Gapoktan Rukun Sentosa merangkap Pengecer Kios Rukun Sentosa.

“Kalau setahu saya memang saat ini Ketua Gapoktan merangkap Pengecer pak Muslihin, jadi memang pusat datang suplayer pupuk ke pak Muslihin”, terang Sugeng Riyadi saat dimintai keterangan dirumahnya pada Rabu, 8 Mei 2024 sekitar jam 10.00 WIB.

Semula pupuk bersubsidi disalurkan langsung ke setiap Kelompok Tani, semua berubah tidak melalui Poktan melainkan langsung membeli pupuk subsidi di gudang Lini IV Kos Rukun Sentosa kemungkinan dikarenakan menggunakan aplikasi barcode.

Baca Juga :  Danramil 11/Sekampung Hadiri Rakor Bulanan Kecamatan Sekampung

“Awal dulu tetap di suplai ke kelompok-kelompok, nggak tau berubah semuanya sekarang masyarakat tidak melewati kelompok harus ke sana masing-masing mungkin karena ada perubahan sistem aplikasi berbarcode”, jelas Kepala Desa Rantau Jaya Udik II tersebut.

Pihaknya mendengar informasi dari masyarakat dan pengurus Poktan terjadi perubahan komoditas yang mendapat subsidi hanya padi dan jagung.

“Kemudian, yang saya denger dari info warga, info dari beberapa kawan pengurus petani yang sekarang berubah dari sistem subsidi ke non subsidi. Yang di subsidi padi, palawija, jagung itu disitu, jadi sekarang kalau berpusat ditempatnya Gapoktan saya nggak terlalu detail taunya”, kata Sugeng Riyadi dihadapan Tim Investigasi dan seorang tamunya dari Way Halim Bandar Lampung.

Pihaknya putus koordinasi dengan Muslihin, pasca pihaknya menerbitkan surat keputusan (SK) atas nama Muslihin menjabat Ketua Gapoktan Rukun Sentosa.

Bahkan, sejak sekitar tahun 2019 silam sekalipun Kepala Desa Rantau Jaya Udik II tak pernah menandatangani berkas atas nama Gapoktan Rukun Sentosa hingga saat ini.

“Ya itu tadi putus komunikasi, yang jelas apapun bentuk Muslihin setelah saya beri SK menjadi Ketua Gapoktan, sekalipun saya belum pernah tandatangan berkas apapun yang atas nama Gapoktan sampe hari ini”, ungkap Sugeng panggilan keseharian Sugeng Riyadi.

Menanggapi penjualan pupuk bersubsidi melebihi harga eceran tertinggi, untuk itu ia berencana akan mengumpulkan seluruh Pengurus Poktan dalam rangka melakukan evaluasi pada Mei 2024 ini.

“Makanya saya punya rencana nanti di bulan 5 (Mei 2024) ini, akan kita kumpulkan semua pengurus kelompok untuk evaluasi”, tegasnya.

Saran Pemerintah Desa Rantau Jaya Udik II kepada Muslihin Pengecer Kios Rukun Sentosa agar menjual pupuk bersubsidi sesuai HET.

“Dan menyarankan kepada Pengecer untuk menjual, menyalurkan pupuk sesuai dengan harga standar yang telah ditentukan oleh Pemerintah, itu kalau rekomendasi saya seperti itu”, sarannya.

Anggota Poktan yang tidak mendapat pupuk subsidi pihak tak dapat berasumsi apa penyebabnya. Ia hanya mengetahui bahwa yang mendapatkan subsidi pupuk bagi anggota Poktan yang bercocok tanam padi dan jagung.

“Kalau petani yang nggak dapet saya nggak bisa asumsikan kebenaranya apa, penyebabnya apa, setau saya yang mendapatkan pupuk subsidi adalah warga yang menanam padi, jagung dan palawija atau kemungkinan yang nggak dapet dia nggak menanam padi, jagung dan palawija sehingga nggak dapet pupuk”, urainya.

Perbandingannya, Anggota Poktan yang menanam komisi padi dan jagung lebih banyak yang menanyakan komoditas ubi kayu atau singkong.

“Tapi kalau dilihat perbandingan yang menanam padi dan jagung ya nggak seberapa, mayoritas ya ubi kayu atau singkong”,paparnya.

“Kepentingannya gimana ya nggak bisa cerita banyak, untuk komunikasi langsung ya silahkan coba komunikasi dengan Gapoktan atau Kelompok-kelompok yang lainnya”, cetusnya.

Wilayah Desa Rantau Jaya Udik II tidak terdapat persawahan melainkan petani menanam padi Gogo atau padi darat.

“Gogo, kategori padi Gogo padi darat tahun ini kayaknya banyak nanam karena memang ya itu tadi tuntutan program Pemerintah yang boleh menyerap pupuk subsidi yang menanam padi dan jagung, ketahanan pangan”,tutup Kades RJU II sebelum beranjak menghadiri acara rapat anggota yang digelar oleh Marjoko Ketua Poktan Sido Mukti VIII. (Rofian/Eko/Andi)

Dilaporkan oleh : Redaksi Umum