Klik Gambar

Lampung Timur-Halopaginews.com- Kisah perjuangan KH. Ahmad Hanafiah asal Dusun Sukadana Desa Sukadana Kecamatan Sukadana Kabupaten Lampung Timur Propinsi Lampung sebelum dianugerahi sebagai Pahlawan Nasional.
KH. Ahmad Hanafiah telah dianugerahi Pahlawan Nasional oleh Pemerintah berdasarkan Keputusan Presiden (Kepres) Nomor: 115/TK/Tahun 2023 tertanggal, 6 November 2023.
Berikut ini adalah penjelasan rinci mengenai penangkapan dan nasib KH. Ahmad Hanafiah, lengkap dengan data sekunder yang dikutip dari berbagai sumber tertulis, baik yang tersimpan di Perpustakaan Daerah OKU, buku biografi, jurnal sejarah, maupun media terpercaya.
Penangkapan dan nasib KH. Ahmad Hanafiah
1. Kondisi Saat Ditangkap
Bagaimana proses beliau tertangkap, berdasarkan Naskah Sejarah Lokal Kabupaten OKU (1998, halaman 49) yang disimpan di Perpustakaan Daerah Ogan Komering Ulu (OKU).
Saat pertempuran di Kemarung mencapai puncaknya pada pagi hari tanggal 17 Agustus 1947, pasukan gabungan Indonesia terjebak dalam serangan gencar dan kobaran api yang dibuat oleh Belanda.
Untuk memberi kesempatan kepada pasukannya untuk mundur dan menyelamatkan diri, KH. Ahmad Hanafiah bersama sejumlah pengawal tetap berada di garis depan untuk menahan serangan musuh.
Dalam keadaan terkepung dan jumlah pasukan yang semakin berkurang, beliau akhirnya tertangkap hidup-hidup oleh pasukan Belanda .
Keadaan fisiknya:
Naskah Sejarah Lokal Kabupaten OKU mencatat bahwa saat ditangkap, kondisi fisik beliau sangat lemah akibat kelelahan dan asap api yang terhirup.
Namun, kesaksian saksi mata yang dikumpulkan dalam transkrip wawancara (koleksi arsip lisan Perpustakaan Daerah OKU) menyebutkan bahwa meskipun beliau lelah namun tetap tegak berdiri dan tidak menunjukkan rasa takut sedikitpun.
Pakaian yang dikenakannya robek-robek dan bernoda darah, akan tetapi tampak penampilannya tetap terlihat berwibawa dan tenang.
Apa yang dikatakan kepada pasukan Belanda saat ditangkap:
Dalam transkrip wawancara dengan H. M. Syaifuddin (saksi mata yang saat itu menjadi tawanan Belanda) yang dilakukan pada tahun 1992, disebutkan bahwa saat ditangkap, KH. Ahmad Hanafiah berkata kepada komandan Belanda dalam bahasa Melayu:
“Kalian boleh menangkap tubuhku, tetapi semangat perjuangan rakyat Indonesia tidak akan pernah bisa kalian tawan. Kematianku hanya akan menambah semangat saudara-saudaraku untuk terus berjuang sampai kemerdekaan kita tercapai sepenuhnya.”
Menurut buku Biografi Perjuangan KH Ahmad Hanafiah Dalam Mempertahankan Kemerdekaan Indonesia di Lampung 1945-1947 (Prof. Wan Jamaluddin dan kawan-kawan 2022, halaman 127), beliau juga menambahkan:
“Allah akan bersama orang-orang yang berjuang di jalan-Nya, dan kemenangan pasti akan berpihak kepada yang benar.”
2. Percobaan Pembunuhan yang Gagal
Berbagai sumber sekunder, baik dari koleksi Perpustakaan Daerah OKU maupun buku dan jurnal sejarah, mencatat secara rinci berbagai cara yang dilakukan Belanda untuk membunuh KH. Ahmad Hanafiah, semuanya berakhir dengan kegagalan:
Ditembak dari jarak 1 meter
Naskah Sejarah Lokal Kabupaten OKU (halaman 50) menyebutkan bahwa setelah ditangkap, komandan Belanda memerintahkan prajuritnya untuk menembak beliau dari jarak sangat dekat, yaitu sekitar 1 meter.
Prajurit Belanda menembakkan senapan laras panjang ke arah dada dan perut KH. Ahmad Hanafiah. Namun, peluru tersebut memantul seperti mengenai benda keras dan tidak menimbulkan luka sedikitpun pada tubuh beliau.
Kesaksian saksi mata yang tercatat dalam transkrip wawancara menyatakan bahwa:
“Saat peluru ditembakkan, terdengar suara ‘ting’ seperti mengenai besi dan peluru itu jatuh ke tanah di dekat kaki beliau. Beliau hanya tersenyum dan berkata, ini adalah pertolongan Allah yang diberikan kepada hamba-Nya yang berjuang di jalan-Nya.”
Ditusuk dengan bayonet
Menurut jurnal HISTORIA (Volume 6, Nomor 1, 2018, halaman 137) yang diterbitkan oleh Universitas Lampung, setelah usaha menembak gagal, Belanda mencoba menusuk beliau dengan bayonet yang tajam.
Beberapa prajurit Belanda bergantian menusukkan bayonet ke berbagai bagian tubuh beliau, seperti dada, perut dan punggung. Namun, bilah besi tersebut tidak dapat menembus kulit beliau dan malah tertekuk atau patah.
Dalam buku KH Ahmad Hanafiah: Ulama dan Pejuang Kemerdekaan dari Lampung (Dinas Sosial Provinsi Lampung, 2021, halaman 45) disebutkan bahwa komandan Belanda yang melihat kejadian tersebut merasa takut dan berkata:
“Orang ini pasti memiliki kekuatan gaib yang membuatnya kebal terhadap senjata kita.”
Dipukul dengan kayu dan besi
Buku Pintar Sejarah Kabupaten OKU (2002, halaman 78) mencatat bahwa Belanda kemudian mencoba memukul beliau dengan kayu yang tebal dan batang besi yang berat.
Mereka memukul kepala, punggung dan anggota tubuh lainnya dengan kekuatan penuh. Namun, kayu tersebut patah dan besi itu bengkok, sedangkan tubuh KH. Ahmad Hanafiah tidak menimbulkan luka yang berbahaya, hanya memar ringan yang sembuh dengan sendirinya dalam waktu singkat.
Kesaksian saksi mata menyebutkan bahwa:
“Setelah dipukul berulang kali, beliau hanya berkata, Kalian boleh memukul tubuhku, tetapi kalian tidak akan pernah bisa membunuhku selama Allah belum menentukan ajalku.”
Diberi racun
Transkrip wawancara dengan saksi mata yang tercatat di Perpustakaan Daerah OKU menyebutkan bahwa Belanda juga mencoba membunuh beliau dengan cara memberi racun yang dicampurkan ke dalam makanan dan minuman yang diberikan kepadanya.
Racun yang digunakan adalah racun tikus dan racun tanaman yang mematikan. Namun, setelah memakan makanan dan minuman tersebut, beliau tidak menunjukkan gejala keracunan sedikitpun dan kondisi kesehatannya tetap terjaga dengan baik.
Dalam buku biografi yang ditulis oleh Prof. Wan Jamaluddin (2022, halaman 130) disebutkan bahwa beliau berkata kepada pengawalnya:
“Racun ini tidak akan mempan kepadaku, karena aku berjuang dengan keyakinan yang kuat dan perlindungan Allah SWT.”
3. Proses Eksekusi
Bagaimana beliau dibawa ke Lubuk Rambai
Berdasarkan Naskah Sejarah Lokal Kabupaten OKU (halaman 51), karena semua cara untuk membunuh beliau gagal, komandan Belanda akhirnya memutuskan untuk mengeksekusi beliau dengan cara ditenggelamkan ke Sungai Ogan di daerah Lubuk Rambai.
Pada pagi hari tanggal 17 Agustus 1947, beliau dibawa dengan berjalan kaki dari tempat penahanan di Baturaja menuju Lubuk Rambai yang berjarak sekitar 8 km dari pusat kota.
Selama perjalanan, beliau tetap tenang dan terus berzikir serta mengajak para tawanan lain untuk tetap sabar dan berjuang. Banyak masyarakat yang melihat perjalanan tersebut merasa sedih dan takut, tetapi juga kagum dengan ketabahan beliau.
Apa yang dikatakan sebelum dijatuhkan ke sungai
Berbagai sumber sekunder mencatat pesan-pesan terakhir yang disampaikan oleh KH Ahmad Hanafiah sebelum dijatuhkan ke sungai:
1. Kepada para tawanan dan masyarakat yang menyaksikan:
“Wahai saudara-saudaraku, janganlah kalian bersedih atas kematianku. Kematianku adalah jalan menuju kemenangan kita. Teruslah berjuang mempertahankan kemerdekaan Agama dan Bangsa. Allah akan menolong orang-orang yang sabar dan beriman.”
(dikutip dari transkrip wawancara saksi mata, koleksi Perpustakaan Daerah OKU)
2. Kepada para prajurit Belanda yang mengeksekusi beliau:
“Kalian telah melakukan kejahatan yang besar dengan membunuh orang yang berjuang untuk kebenaran. Tetapi ingatlah, Allah akan membalas semua perbuatan kalian di dunia dan di akhirat nanti.”
(dikutip dari buku KH Ahmad Hanafiah: Pahlawan Nasional dari Lampung, 2023, halaman 89)
3. Sebelum dimasukkan ke dalam karung, beliau sempat membaca surat Al-Ikhlas dan berdoa:
“Ya Allah, terimalah pengorbanan hamba-Mu ini sebagai bukti cinta hamba kepada agama dan bangsa. Jadikanlah kematianku ini sebagai jalan menuju kemenangan bagi rakyat Indonesia.” (dikutip dari jurnal HISTORIA, 2018, halaman 138).
Kesaksian saksi mata yang melihat peristiwa tersebut
Berikut adalah kesaksian saksi mata yang tercatat dalam berbagai sumber sekunder:
1. Kesaksian H. M. Syaifuddin (saksi mata yang saat itu menjadi tawanan Belanda):
“Saya melihat sendiri bagaimana beliau dimasukkan ke dalam karung goni yang kemudian diisi dengan batu-batu pemberat. Sebelum diikat, beliau sempat tersenyum dan berkata kepada kami, ‘Sampai jumpa di surga wahai saudara-saudaraku’. Setelah karung itu diikat, mereka mengangkatnya dan menjatuhkannya ke tengah Sungai Ogan yang dalam dan berarus deras. Kami semua yang menyaksikan menangis dan berdoa untuk keselamatan beliau.”
(transkrip wawancara, koleksi Perpustakaan Daerah OKU, 1992)
2. Kesaksian H. Ahmad Yani (warga sekitar Lubuk Rambai):
“Saya melihat peristiwa itu dari jarak yang agak jauh karena takut ditangkap oleh Belanda. Saya melihat karung yang berisi beliau dijatuhkan ke sungai, dan beberapa saat kemudian karung itu tenggelam ke dasar sungai. Setelah pasukan Belanda pergi, saya dan beberapa warga lain mencoba mencari jasad beliau, tetapi tidak ketemu sampai sekarang. Kami percaya bahwa beliau telah diangkat derajatnya oleh Allah SWT.”
(dikutip dari buku Sejarah Perjuangan Rakyat OKU, 1985, halaman 67)
3. Kesaksian dalam laporan pasukan Belanda (yang ditemukan di arsip nasional):
“Kami telah mengeksekusi pemimpin laskar dari Lampung dengan cara ditenggelamkan ke Sungai Ogan. Meskipun kami telah melakukan berbagai cara untuk membunuhnya sebelumnya, semuanya gagal. Orang ini memiliki kekuatan yang luar biasa dan sangat ditakuti oleh pasukan kami. Kami berharap dengan eksekusi ini, semangat perlawanan rakyat akan menurun.”
(dikutip dari jurnal HISTORIA, 2018, halaman 139).
DAFTAR SUMBER SEKUNDER YANG DIGUNAKAN
1. Koleksi Perpustakaan Daerah Kabupaten OKU:
Naskah Sejarah Lokal Kabupaten Ogan Komering Ulu (1998, direvisi 2017), halaman 49β52
Buku Pintar Sejarah Kabupaten Ogan Komering Ulu (2002), halaman 77β79
Transkrip wawancara dengan saksi mata dan keturunan pejuang (1990β1995)
Koleksi arsip lisan berupa rekaman audio wawancara
2. Buku dan Biografi:
Prof. Wan Jamaluddin dkk. (2022). Biografi Perjuangan KH Ahmad Hanafiah Dalam Mempertahankan Kemerdekaan Indonesia di Lampung 1945β1947. Bandar Lampung: Penerbit Universitas Lampung
Dinas Sosial Provinsi Lampung (2021). KH Ahmad Hanafiah: Ulama dan Pejuang Kemerdekaan dari Lampung. Bandar Lampung: Dinas Sosial Provinsi Lampung
Tim Peneliti Sejarah Daerah OKU (1985). Sejarah Perjuangan Rakyat Ogan Komering Ulu Mempertahankan Kemerdekaan 1945β1949. Baturaja: Pemerintah Kabupaten OKU
3. Jurnal Ilmiah:
HISTORIA (Jurnal Pendidikan Sejarah dan Ilmu Sejarah), Volume 6, Nomor 1, Tahun 2018, ISSN 2337-4713 (e-ISSN 2442-8728), artikel “KH Ahmad Hanafiah: Pejuang Kemerdekaan Indonesia Asal Karesidenan Lampung”, halaman 135β140
4. Media dan Laporan Resmi:
Republika.id (2021). “KH Ahmad Hanafiah, Penggerak Laskar dari Lampung”
detikNews (2023). “KH Ahmad Hanafiah, Ulama Lampung yang Dapat Gelar Pahlawan Nasional”
Laporan arsip pasukan Belanda yang disimpan di Arsip Nasional Republik Indonesia.
Apakah Anda memerlukan salinan lengkap dari salah satu sumber sekunder tersebut atau ingin mengetahui informasi lebih lanjut tentang hal lain yang berkaitan dengan perjuangan KH Ahmad Hanafiah?
(Ropian Kunang/KTH)