PT GGP Masih Bersengketa Lahan dengan Warga

| π•Ώπ–Šπ–—π–Žπ–’π–†π–π–†π–˜π–Žπ– π•΅π–†π–‰π–Ž π•»π–Šπ–’π–‡π–†π–ˆπ–† π•Ύπ–Šπ–™π–Žπ–†.

Klik Gambar

Lampung Tengah (HPN) – Permasalahan penguasaan lahan oleh PT Great Giant Pineapple (GGP), atau Umas Jaya yang terletak di Umbul Kerakking, Desa Terbanggi Ilir, Kecamatan Seputih Mataram, Kabupaten Lampung Tengah masih berlanjut tak ada titik terang.

Meskipun telah beberapa kali telah dilakukan pertemuan dengan mediasi antara pihak Perusahaan Pengalengan Nanas terbesar nomor 3 di dunia dan pemilik lahan atas nama Gubai, namun upaya penyelesaian itu masih gagal.

Menurut pengakuan Gubai, pihaknya telah beberapa kali mengadakan pertemuan dengan pihak PT GGP untuk penyelesaian penguasaan lahan miliknya.

β€œNamun hingga saat ini tidak terjadi kesepakatan penyelesaian. Pihak Perusahaan menawarkan kompensasi atas lahan kami, tapi tidak sesuai dari harapan kami,” kata Gubai, Minggu (15/03/2020).

Padahal, lanjut Gubai, pihak Perusahaan sudah mengganti rugi atas tanaman singkong yang dicabut oleh Perusahaan.

β€œSaya kan sudah tanami singkong. Baru berapa hari saja saya tanam tapi sudah dicabut oleh pihak perusahaan. Tapi tanaman singkong yang dicabut perusahaan itu diganti rugi oleh pihak perusahaan,” terangnya.

Gubai mengaku, akan kembali berusaha untuk menguasai lahan seluas 35 hektar yang menurutnya merupakan hak miliknya.

β€œSelagi belum ada penyelesaian atau proses jual beli tanah itu mutlak hak milik kami. Untuk itu akan kami perjuangkan tanah itu dan akan kami kuasai kembali,” tegasnya.

Baca Juga :  Mukadam: Apriasiasi Uspika Seputih Surabaya Fasilitsi Pertemuan 2 Kampung

Masih kata Gubai, lahan itu merupakan warisan dari orang tuanya atas nama A. Basid (almarhum), dan didapatkan dari beli dengan Kepala Desa Terbanggi Ilir, Misbach Buchori pada tahun 1992. Dulu lahan tersebut ditanami pohon jati dan karet.

Lokasinya berada di umbul Kerakking Desa Terbanggi Ilir, Kecamatan Seputih Mataram, Kabupaten Lampung Tengah, dengan batas-batas sebelah utara dan timur berbatas dengan PT Gula Putih Mataram, sebelah selatan dan barat berbatas dengan PT Multi Agro (PT Umas Jaya).

β€œBapak (A Basid) dulu beli dari kepala Desa, ada SKT nya tahun 1992. Dalam SKT itu luas tanahnya kurang lebih 35 hektar,” kata Gubai Kepada Wartawan.

Lanjut Gubai, semasa A. Basid masih hidup, tanah itu tidak pernah digarap oleh pihak Perusahaan Perkebunan Nanas, pisang dan ubi kayu itu.

β€œPadahal, sebelumnya lahan itu oleh keluarga kami ditanami pohon karet, jati, dan tanaman pepohonan lainya. Setelah Bapak meninggal, tanah kami digarap oleh perusahaan sekira tahun 2012,” katanya.

Baca Juga :  Polisi Tewas Dibunuh, Dalam Waktu 3 Jam Pelaku Ditangkap Tekab 308 Polres Lampung Tengah

Bahkan, Gubai mengaku pihak Perusahaan melarangnya untuk masuk ke lahan tersebut. β€œDulu pernah dapat izin untuk masuk dan menggarap lahan saya, tapi sekarang saya dilarang,” paparnya.

Sekitar bulan oktober 2019, Ia memberanikan diri menggarap lahan dan menanam ubi kayu. β€œTapi tanaman singkong saya dicabut oleh pihak perusahaan,” ucapnya.

Ia menceritakan, terkait masalah tanah itu pihaknya sudah melakukan upaya-upaya hukum untuk mempertahankan hak atas kepemilikan tanah tersebut.

β€œSaya sudah mengadukan permasalahan ini ke BPN pusat, Sekertariat komisi II DPR RI, dan laporan ke Polda Lampung pada tahun 2012,” paparnya.

Namun, hingga saat ini permasalahan itu masih menggantung dan tak kunjung selesai. Pihaknya berharap, pihak terkait dan pihak perusahaan dapat menyelesaikan permasalahan tersebut.

β€œSaya rakyat kecil, sampai bingung untuk menuntut keadilan. Harus kemana lagi saya meminta keadilan untuk memperjuangkan hak atas kepemilikan tanah saya,” keluhnya.

Hingga berita ini diterbitkan, pihak PT GGP atau Umas Jaya belum dapat dikonfirmasi terkait permasalahan ini.

β€œMohon maaf bukan kewenangan saya untuk menjelaskan permasalahan itu, silahkan tanyakan ke bagian humas,” terang salah satu petinggi PT GGP. (Tim/Red)

Dilaporkan oleh : Redaksi Halopaginews