Klik Gambar

Bandar Lampung-Halopaginews.com-Berangkat dari tradisi pesantren, Gus Gudfan Arif Ghofur tumbuh menjadi sosok yang memadukan pengalaman keumatan, organisasi, dan dunia usaha. Putra KH Abdul Ghofur, pengasuh Pondok Pesantren Sunan Drajat Lamongan, ini menempuh pendidikan pesantren di Denanyar, Jombang, sebelum menyelesaikan pendidikan di FISIP Universitas Darul Ulum Jombang.
Sejak 2003, Gus Gudfan menekuni dunia bisnis dan memiliki pengalaman di sektor riil, migas, petrokimia, teknologi informasi dan telekomunikasi hingga pertambangan batu bara. Pengalaman tersebut kemudian berjalan beriringan dengan kiprahnya di NU, termasuk sebagai bendahara PP Pagar Nusa, RMI PWNU Jawa Timur, hingga dipercaya menjadi Plt Bendahara Umum PBNU pada 2022.
Perjalanan itu membentuk perspektif Gus Gudfan bahwa kemandirian ekonomi umat harus dibangun dengan membuka akses, menciptakan peluang, dan menghadirkan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
Bagi seorang santri seperti Gus Gudfan, ekonomi bukan sekadar soal pertumbuhan usaha, tetapi juga tentang bagaimana sumber daya dapat dikelola untuk memperkuat pesantren, UMKM, lapisan masyarakat bawah, dan kemandirian umat.
Pengalamannya di dunia usaha juga membuatnya dipercaya PBNU menjadi penanggung jawab pengelolaan bidang pertambangan organisasi pada 2024. Langkah tersebut menempatkan pengalaman bisnisnya dalam ruang yang lebih luas: bagaimana aset dan peluang ekonomi dapat dikelola secara profesional sekaligus diarahkan untuk memberi manfaat sosial.
Aktivis alumni GMNI Lampung dan tokoh muda Lampung, Roma, menilai H. Gudfan Arif Ghofur atau Gus Gudfan merupakan salah satu figur yang layak dipertimbangkan untuk memimpin Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).
Menurut Roma, Gus Gudfan memiliki kombinasi pengalaman yang relevan dengan tantangan NU ke depan: berangkat dari tradisi pesantren, memiliki pengalaman panjang dalam organisasi, sekaligus memahami dunia usaha dan penguatan ekonomi umat.
“Saya melihat Gus Gudfan bukan hanya sebagai sosok yang lahir dari lingkungan pesantren, tetapi juga sebagai figur yang memahami realitas ekonomi. Pengalaman beliau di dunia usaha dan organisasi menjadi modal penting untuk mendorong NU semakin mandiri dan mampu memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat,” ujar Roma.
Bagi Roma, kepemimpinan NU ke depan membutuhkan figur yang mampu menjaga akar tradisi pesantren sekaligus membaca perubahan zaman.
“NU membutuhkan kepemimpinan yang tidak hanya kuat secara kultural, tetapi juga memiliki keberanian untuk membangun kemandirian ekonomi umat. Dalam pandangan saya, Gus Gudfan memiliki perpaduan pengalaman tersebut,” katanya.
Roma menegaskan bahwa dukungannya merupakan pandangan pribadi sebagai bagian dari generasi muda Lampung yang melihat pentingnya regenerasi kepemimpinan organisasi secara terbuka dan konstruktif.
“Saya melihat Gus Gudfan layak diberi ruang untuk maju dan menawarkan gagasan terbaiknya kepada warga NU. Pada akhirnya, keputusan tetap berada dalam mekanisme Muktamar dan menjadi hak para pemilik suara di dalam organisasi,” ujar Roma.
Nama Gus Gudfan saat ini memang menjadi salah satu figur yang diperbincangkan dalam bursa calon Ketua Umum PBNU menjelang Muktamar ke-35. Sejumlah pemberitaan menyebut peta dukungan masih dinamis dan belum ada kandidat yang dapat dipastikan unggul.
Bagi Roma, yang terpenting bukan sekadar siapa yang menjadi Ketua Umum, tetapi siapa yang mampu membawa NU tetap berakar kuat pada tradisi pesantren sekaligus bergerak maju menghadapi tantangan ekonomi, sosial, dan perubahan zaman. (*)