Atizah, Balita “Si Penderita Hidrosefalus” Berharap Bantuan

0
183
Atizah, balita berusia empat tahun yang diduga mengidap penyakit Hidrosefalus. Foto: ist

Tanggamus (HPN) – Atizah, balita berusia 4 tahun ini hanya bisa berbaring lemah di tempat tidur. Akibat penyakit yang menyarang di kepalanya, hingga ukuran kepalanya semakin membesar dari bentuk tubuhnya yang sangat mungil.

Diduga bocah tersebut menderita penyakit Hidrosefalus. Naasnya lagi, penyakit itu sudah diderita Atizah sejak dalam kandungan, hingga usianya menginjak 4 tahun belum pernah ditangani medis sama sekali.

“Begitu dia lahir memang sudah begitu (kepalanya lebih besar), jadi waktu itu dilahirkan secara operasi sesar,” katanya biar tidak makin parah,” kata Sulaiman, Kakek dari Atizah. Sabtu (24/8/19) dirumahnya.

Terpisah menurut Warga Pekon Tekad, Blok III, Kecamatan Pulau Panggung menceritakan, dulu Atizah pernah mencoba di operasi di RSUD Abdoel Moeloek, Bandar Lampung. Saat itu usianya belum genap setahun, lantas pihak Rumah Sakit memasukannya Atizah ke dalam Inkubator.

Baca Juga :  Polemik Lahan, Puskesmas Pasar Simpang Dituding Milik PT Pertamina

Seiring berjalan, sampai 20 hari lamanya di rawat, operasi juga belum dilakukan oleh pihak Rumah Sakit. Lalu pihak keluarga mulai cemas, karena harus menanggung hidup menjaganya selama di Rumah Sakit. Akhirnya berdasarkan putusan keluarga besar, Atizah di bawa pulang.

“Waktu itu juga pertimbangan kami, anak ini masih kecil, berat rasanya kalau harus di operasi. Akhirnya dibawa pulang dan sampai sekarang tidak pernah lagi periksa ke Rumah Sakit,” terang Sulaiman.

Sulaiman menambahkan, bahwa pengobatan hanya dilakukan secara alternatif. Namun keluarga mengakui hasilnya tidak dapat menyembuhkan Atizah dari penyakit tersebut.

Untuk saat ini, sebenarnya keluarga berharap ada kesempatan pertolongan lagi kepada putri dari Dini, atau ibunya yang berstatus janda. Sebab usaha yang selama ini ditempuh tidak membuahkan hasil.

“Dari Puskesmas sudah pernah melihat dan menyatakan, Atizah bisa disembuhkan,” tambah Sulaiman.

Baca Juga :  IWO Gandeng Forkopimda Tanggamus Adakan Baksos

Lanjutnya, pihaknya mengaku serta berharap agar ada penanganan medis selanjutnya. Namun untuk itu perlu dana dan juga pengaktifan kembali BPJS yang sudah nonaktif sekitar tiga tahun lalu.

“Waktu itu tidak bayar BPJS lagi karena berat bayarnya. Sebab keperluan Atizah juga banyak seperti Susu, Pampers, makan sehari-hari. Sedangkan dalam BPJS ada enam orang, satu keluarga, bayar tiap bulan, tidak boleh satu orang saja,” paparnya.

Terlebih, selama ini Sulaiman hanya bekerja dengan mengandalkan hasil tani kebun dengan hasil tahunan, lalu membuka warung, dan menjadi tukang ojek. Pendapatan itu hanya bisa untuk menopang hidup sehari-hari untuk keperluan Atizah.

“Kalau bisa minta bantuan Pemerintah gitu, biar bisa operasi. Pokoknya bagaimana usahanya, untuk hasilnya nanti bagaimana kami iklas, yang penting usaha sudah dilakukan,” tutur Sulaiman berharap.(Rls/Tim)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here